Moskow, Sinata.id – Pemerintah Inggris menyatakan pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny, diduga tewas akibat racun langka bernama epibatidin, zat yang secara alami ditemukan pada katak panah beracun di Amerika Selatan.
Dilaporkan BBC, Minggu (15/2/2026), Inggris bersama sejumlah sekutu Eropa menganalisis sampel biologis yang diklaim berasal dari tubuh Navalny, yang meninggal dunia pada 16 Februari 2024 di koloni penjara Siberia dalam usia 47 tahun.
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyatakan bahwa hanya pemerintah Rusia yang dinilai memiliki “sarana, motif, dan kesempatan” untuk menggunakan racun tersebut saat Navalny berada dalam tahanan.
Pernyataan itu disampaikan dalam deklarasi bersama Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda dalam forum Konferensi Keamanan Munich. Inggris juga melaporkan dugaan pelanggaran tersebut kepada Organisasi Pelarangan Senjata Kimia atas kemungkinan pelanggaran Konvensi Senjata Kimia.
Baca juga:Iran Pamer Kekuatan Lewat Latihan Militer Bersama Rusia dan China
Penolakan dari Moskow
Pemerintah Rusia melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Maria Zakharova, menolak tuduhan tersebut. Kantor berita milik negara, TASS, mengutip pernyataan yang menyebut tudingan itu sebagai “kampanye informasi” yang dinilai bermotif politik.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebelumnya menyatakan kematian seseorang selalu merupakan peristiwa yang menyedihkan, namun Kremlin membantah keterlibatan dalam kematian Navalny dan menyebutnya sebagai sebab alami.
Racun yang Disebut Sangat Langka
Epibatidin adalah alkaloid beracun yang ditemukan pada spesies katak panah liar di Amerika Selatan. Menurut pakar toksikologi Jill Johnson dalam wawancara dengan BBC Rusia, zat ini disebut sekitar 200 kali lebih kuat dibandingkan morfin.
Racun tersebut bekerja pada sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan kejang, kelumpuhan, perlambatan detak jantung, gagal napas, hingga kematian. Johnson menyebut epibatidin sebagai “cara yang sangat langka untuk meracuni seseorang” karena zat tersebut sulit diperoleh secara alami dan biasanya hanya terdapat pada katak liar dengan pola makan tertentu.
Reaksi Keluarga Navalny
Istri Navalny, Yulia Navalnaya, menyatakan bahwa hasil analisis laboratorium di dua negara Eropa memperkuat keyakinannya bahwa sang suami diracun.
Baca juga:Rusia Serukan Diplomasi untuk Selamatkan Timur Tengah
“Saya meyakini sejak awal bahwa suami saya diracun. Kini ada bukti ilmiah yang mendukungnya,” ujarnya dalam forum yang sama.
Namun hingga kini, belum dipublikasikan secara terbuka rincian teknis mengenai bagaimana sampel diperoleh maupun lokasi laboratorium yang melakukan pengujian tersebut.
Latar Belakang
Navalny dikenal sebagai aktivis antikorupsi dan salah satu kritikus paling vokal terhadap Kremlin. Pada 2020, ia selamat dari serangan racun saraf Novichok dan menjalani perawatan di Jerman. Setelah kembali ke Rusia, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara atas tuduhan yang disebutnya bermotif politik.
Polemik terbaru ini kembali meningkatkan ketegangan diplomatik antara Rusia dan negara-negara Barat, khususnya terkait isu pelanggaran hak asasi manusia dan penggunaan senjata kimia. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini