Medan, Sinata.id – Puluhan santri Tahfidzul Quran Madrasah Islamiyah Swasta (MIS) Al Amin diwisuda dalam kegiatan yang digelar di halaman sekolah, Jalan Perunggu, Kelurahan Kota Bangun, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Kamis (21/5/2026).
Selain prosesi wisuda tahfidz, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan khataman Alquran serta acara perpisahan santri Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) tahun ajaran 2025/2026.
Para santri yang diwisuda dinyatakan telah menyelesaikan hafalan Juz 1, 29, dan 30. Sementara santri lainnya mengikuti prosesi khataman Alquran sebagai bentuk capaian pendidikan keagamaan di sekolah tersebut.
Ketua panitia, Anggraeni, menyampaikan apresiasi kepada para orang tua santri yang dinilai berperan besar dalam mendukung perkembangan ilmu dan bakat anak-anak mereka, khususnya dalam menghafal ayat suci Alquran.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para orang tua yang telah bekerja sama mendukung pendidikan anak-anak sehingga mampu mencapai hafalan Alquran dengan baik,” ujarnya.
Dalam acara tersebut, berbagai penampilan turut memeriahkan kegiatan, di antaranya penampilan tahfidz dari 64 santri wisudawan dan wisudawati, khataman Alquran, pidato tiga bahasa yakni bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris, penampilan dai cilik, hingga prosesi penyerahan mahkota kepada orang tua masing-masing santri.
Kepala MIS Al Amin, Ruqaiyah, mengatakan wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan langkah awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
“Wisuda ini bukan akhir, tetapi awal untuk melangkah lebih baik lagi. Banyak orang tua yang tidak menyangka anaknya mampu menghafal dan khatam Alquran di usia dini,” katanya.
Ia juga berpesan kepada seluruh santri agar tetap menjaga salat lima waktu, akhlak, serta terus membaca dan memperbaiki bacaan Alquran, termasuk makhraj dan tajwidnya.
“Jangan pernah meninggalkan salat lima waktu, jaga akhlak, tutup aurat, dan terus membaca Alquran agar ilmu yang diperoleh bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain,” tambahnya.
Suasana haru mewarnai jalannya acara ketika para santri menyematkan mahkota kepada ibunda mereka masing-masing sambil bersimpuh dan menyampaikan pesan menyentuh.
Banyak orang tua tampak meneteskan air mata sebagai bentuk rasa bangga atas pencapaian anak-anak mereka dalam menghafal dan mengkhatamkan Alquran.
“Prosesi sungkeman ini menjadi pesan agar anak-anak tetap rendah hati dan selalu mengingat perjuangan serta dukungan orang tua dalam perjalanan pendidikan mereka,” pungkas Ruqaiyah. (SN22)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini