Pematangsiantar, Sinata.id – Misteri mengenai tembok awan raksasa sepanjang 6.000 kilometer yang menyelimuti planet Venus akhirnya berhasil diungkap para ilmuwan. Fenomena atmosfer masif yang bergerak mengelilingi planet tersebut setiap beberapa hari sekali ternyata dipicu oleh mekanisme yang mirip dengan aliran air di dasar wastafel.
Fenomena unik ini pertama kali ditemukan pada 2016 melalui misi Akatsuki milik Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang atau JAXA. Awan raksasa tersebut berada di ketinggian sekitar 50 kilometer di atas permukaan Venus dan membentang sejajar dengan garis khatulistiwa planet.
Selama hampir satu dekade, para peneliti dibuat penasaran oleh ukuran awan yang sangat besar, kecepatannya yang tinggi, serta tepian depannya yang terlihat sangat tajam.
Dipicu Fenomena Lompatan Hidrolik
Melalui penelitian dan pemodelan matematika terbaru, tim astronom internasional menemukan bahwa fenomena itu disebabkan oleh “hydraulic jump” atau lompatan hidrolik.
Dalam ilmu dinamika fluida, lompatan hidrolik terjadi ketika cairan atau gas yang bergerak cepat tiba-tiba melambat dan berubah menjadi lebih tebal atau lebih dalam.
Fenomena serupa dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat air dari keran menghantam dasar wastafel. Air yang awalnya tipis dan bergerak cepat mendadak melambat serta melebar ketika menyebar ke permukaan.
Di Venus, proses tersebut dipicu oleh gelombang atmosfer besar yang bergerak ke arah timur dan dikenal sebagai gelombang Kelvin. Dengan diameter Venus mencapai sekitar 12.104 kilometer, gelombang sepanjang 6.000 kilometer itu menjadi salah satu gangguan atmosfer terbesar yang pernah diamati di tata surya.
Lompatan Hidrolik Terbesar di Tata Surya
Ketika gelombang Kelvin melambat, proses tersebut memicu lompatan hidrolik yang menghasilkan aliran udara vertikal sangat kuat. Aliran ini kemudian mendorong uap asam sulfat naik hingga ketinggian 50 kilometer sebelum mengembun menjadi awan asam sulfat berukuran kolosal.
Pemimpin penelitian dari Universitas Tokyo, Takeshi Imamura, mengaku terkejut dengan hasil temuan tersebut.
Ia menyebut gangguan awan itu merupakan lompatan hidrolik terbesar yang pernah ditemukan di tata surya.
Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara proses horizontal berskala sangat besar dengan gelombang vertikal lokal yang kuat, sesuatu yang jarang ditemukan dalam dinamika fluida.
Tantangan Penelitian Berikutnya
Penemuan ini juga menjadi pertama kalinya fenomena lompatan hidrolik terdeteksi di planet selain Bumi. Para ilmuwan menilai kondisi tersebut membuktikan bahwa atmosfer planet lain dapat bekerja dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan atmosfer Bumi.
Atmosfer Venus sendiri didominasi karbon dioksida dengan tekanan permukaan mencapai 92 bar. Planet tersebut juga mengalami fenomena super-rotation, yakni kondisi ketika atmosfer berputar jauh lebih cepat dibandingkan rotasi planetnya.
Tim peneliti kini berencana memasukkan temuan tersebut ke dalam model iklim Venus yang lebih kompleks. Namun, mereka mengakui proses simulasi membutuhkan daya komputasi yang sangat besar, bahkan dengan bantuan superkomputer modern.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan secara resmi pada 24 April 2026 dalam Journal of Geophysical Research: Planets. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini