Sinata.id – Pemerintah membuka awal tahun 2026 dengan pesan optimistis di sektor pangan. Di tengah kekhawatiran global soal krisis pasokan dan volatilitas harga pangan, stok beras nasional justru berada pada level yang disebut sebagai salah satu yang paling kuat dalam sejarah.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat ketersediaan beras nasional pada awal 2026 mencapai 12,529 juta ton.
Angka ini mencakup Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog sebesar 3,248 juta ton, sekaligus menjadi sinyal kuat bagi pemerintah untuk mengunci kebijakan tanpa impor beras konsumsi sepanjang 2026.
Baca Juga: Bukan Virus Baru, H3N2 Subclade K Ditemukan di 8 Provinsi, Anak-Anak Paling Terdampak
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyebut capaian tersebut melampaui dua tahun sebelumnya secara signifikan.
Ia menjelaskan, stok awal tahun ini melonjak lebih dari tiga kali lipat dibanding awal 2024 yang hanya berada di kisaran 4,1 juta ton.
Sementara jika dibandingkan awal 2025, peningkatannya hampir 50 persen.
Menurut Ketut, kondisi ini memberi ruang aman bagi pemerintah untuk menutup keran impor.
Ia menegaskan, dengan cadangan yang sangat besar, Indonesia tidak membutuhkan beras konsumsi dari luar negeri pada 2026.
Pernyataan itu disampaikan Ketut saat menjelaskan keputusan pemerintah dalam penetapan Neraca Komoditas Tahun 2026, Senin (5/1/2026).
Tak hanya beras konsumsi, pemerintah juga memastikan tidak ada impor beras bahan baku industri sepanjang tahun ini.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat industri domestik dengan memaksimalkan bahan baku lokal, khususnya beras pecah dan beras ketan pecah yang selama ini tersedia di dalam negeri.
Sementara itu, Kepala Bapanas yang juga menjabat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan stok beras nasional berada pada level yang jauh dari kata rawan.
Ia menyebut kondisi saat ini bukan sekadar aman, tetapi sangat aman, bahkan disebut sebagai stok tertinggi yang pernah dicapai Indonesia di akhir tahun sejak kemerdekaan.
Amran memastikan, dengan cadangan pemerintah yang telah melampaui 3 juta ton tanpa impor, pasokan beras nasional diproyeksikan tetap surplus hingga memasuki Ramadan dan Idulfitri 2026.
Ia menekankan tidak ada potensi gangguan pasokan dalam periode konsumsi tinggi tersebut.
Berdasarkan perhitungan Bapanas, stok beras awal 2026 mampu menutup kebutuhan konsumsi nasional selama hampir lima bulan, dengan asumsi kebutuhan bulanan berada di kisaran 2,59 juta ton.
Dengan proyeksi produksi beras nasional tahun ini mencapai 34,7 juta ton, posisi stok nasional di akhir 2026 diperkirakan semakin menguat hingga menembus 16,19 juta ton.
Capaian ini menjadi penanda perubahan strategi pangan nasional: dari ketergantungan impor menuju penguatan cadangan domestik, dengan pemerintah menegaskan bahwa 2026 adalah tahun konsolidasi kemandirian beras nasional. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini