Sinata.id – Pemandangan di Kampung Lalang, Medan Sunggal, sempat menyerupai pasar malam, namun bukan pedagang makanan atau jajanan yang berjualan, melainkan transaksi barang haram. Di tempat yang disebut warga sebagai “barak narkoba,” antrean manusia terlihat rapi, menunggu giliran pembeli sabu layaknya membeli kacang goreng di pinggir jalan.
Tiga barak berdiri berdekatan di kawasan Jalan Balai Desa, Kelurahan Lalang, masing-masing dijaga ketat oleh orang suruhan sang bandar. Tak hanya itu, pagar kawat berduri yang dialiri listrik mengelilingi area tersebut, lengkap dengan sistem komunikasi lewat handy talkie (HT) agar para penjaga bisa memantau setiap gerak-gerik yang mencurigakan.
Namun suasana itu kini tinggal kenangan. Jumat (7/11/2025), “benteng narkoba” itu akhirnya digempur aparat gabungan dari BNN, Polrestabes Medan, Polda Sumut, TNI, dan Pemko Medan dalam razia serentak se-Indonesia.
Sarang Narkoba Paling Rapi di Medan
Dipimpin langsung oleh Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, operasi ini membongkar jaringan peredaran narkoba paling terorganisir yang pernah ditemukan di Medan.
Dijelaskan Calvijn kepada awak media dalam konferensi pers, pembeli sabu di tempat ini sebelumnya seperti beli kacang. “Pembeli rela antre,” paparnya.
Tiga barak berbeda yang digempur, semuanya memiliki sistem keamanan tinggi, seperti markas bisnis hitam.
Dari penggerebekan tersebut, petugas berhasil menyita 35 kilogram sabu, 985 butir ekstasi, 178 catridge vape berisi MDMA dan kokain, serta menangkap 59 tersangka dari berbagai jaringan.
“Sebagian besar di antaranya berperan sebagai penjaga, pengantar, hingga kurir antar-barak,” papar Kapolrestabes.
Baca Juga: Taktik Gila Bandar Narkoba Medan: Barak Dikelilingi Kawat Beraliran Listrik!
Dijaga Ketat, Dipantau HT, dan Dialiri Listrik
Hasil penyelidikan mengungkap bahwa barak-barak ini beroperasi selama 24 jam.
Para pembeli datang silih berganti, membayar tunai, dan keluar membawa sabu dalam kemasan kecil.
“Ada sistem antrean, pembagian shift, bahkan patroli internal menggunakan HT,” jelas Kapolrestabes.
Barak utama dikelola oleh pria berinisial MF, yang mempekerjakan belasan orang untuk menjaga keamanan dan memantau kedatangan polisi.
Bahkan, jika ada razia di sekitar, informasi langsung dikirim melalui radio HT agar para pelaku bisa melarikan diri lewat jalur sungai di belakang barak.
Baca Juga: Barak Narkoba Dialiri Listrik di Kampung Lalang Digempur Habis, 35Kg Sabu-Ribuan Ekstasi Disita
Dari Medan ke Asahan: Jejak 35 Kilogram Sabu
Tak hanya di Kampung Lalang, razia besar ini juga menjangkau kawasan Pasundan, Namogajah, hingga Asahan.
Di perairan Asahan, polisi menggagalkan pengiriman 25 kilogram sabu, sedangkan di jalur darat, dua warga Tanjungbalai, Irwansyah dan Zulkarnaen, ditangkap dengan 10 kilogram sabu di Tol Kisaran.
Irwansyah mengaku hanya buruh bangunan yang nekat menjadi kurir karena dijanjikan Rp5 juta.
“Saya disuruh orang namanya AW. Katanya cuma antar barang, tapi ternyata sabu,” ucapnya lirih.
BNN: Dari Sarang Narkoba Jadi Taman Publik
Kepala BNNP Sumut Brigjen Pol Toga H. Panjaitan mengatakan, kawasan Kampung Lalang sudah lama dikenal sebagai zona merah peredaran narkoba di Medan. Ia berjanji lokasi tersebut akan direvitalisasi.
“Tempat ini harus kita ubah. Jangan lagi ada barak narkoba, tapi taman untuk warga. Medan tidak boleh kalah oleh bandar,” tegasnya.
Ia menambahkan, Sumatera Utara kini menempati peringkat pertama nasional dalam jumlah penyalahgunaan narkoba, dengan lebih dari 1 juta orang terpapar.
“Kita akan terus gelar razia hingga bersih,” katanya.
Pemerintah Kota Siap Revitalisasi Kampung Lalang
Wali Kota Medan Rico Waas turut hadir dalam penggerebekan. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota akan memastikan kawasan itu tidak lagi menjadi ladang bisnis narkoba.
“Bayangkan, orang antre beli sabu seperti beli jajanan. Ini sudah keterlaluan. Kami pastikan tidak ada lagi ruang bagi narkoba di Medan,” ujarnya tegas.
Rico juga memuji kerja sama TNI, Polri, dan BNN dalam operasi lintas lembaga ini.
“Kami akan jadikan Kampung Lalang contoh perubahan. Dari titik gelap menjadi ruang hidup baru bagi warga,” kata Rico mengakhiri. [zainal/dfb]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini