Jakarta, Sinata.id — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali memberikan pernyataan tegas terkait kondisi utang pemerintah Republik Indonesia setelah rasio utang menyentuh 40,46% dari Produk Domestik Bruto (PDB) per 31 Desember 2025. Meski angka ini melonjak dibanding periode sebelumnya, Purbaya menyatakan posisi fiskal nasional masih terkendali dan berada dalam batas aman menurut standar internasional.
Rasio Utang Indonesia Dipandang Masih Sehat
Dalam keterangan pers usai rapat koordinasi pemulihan ekonomi pascagempa di Kompleks Parlemen, Senayan pada Rabu (18/2/2026), Purbaya menekankan bahwa rasio utang sebesar 40,46% PDB belum menunjukkan level risiko tinggi bagi perekonomian nasional. Angka ini setara dengan total utang pemerintah mencapai Rp9.637,90 triliun.
“Dengan standar itu, kita masih aman,” ujar Purbaya, dikutip Rabu (18/2/2026).
Baca Juga: Pemerintah Salurkan Dana Miliaran untuk Korban Sumatera
Ia menilai tolok ukur kesehatan fiskal tidak cukup dilihat dari nominal utang saja, tetapi lebih kepada kemampuan negara mengelolanya tanpa mengguncang stabilitas ekonomi.
Perbandingan dengan Negara Kawasan Jadi Alasan Optimisme
Purbaya tidak hanya mengandalkan angka absolut, tetapi juga membandingkan rasio utang Indonesia dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara. Data menunjukkan:
- Malaysia: rasio utang sekitar 64% PDB
- Thailand: sekitar 63,5% PDB
- Singapura: jauh lebih tinggi mencapai kisaran 165–170% PDB
Situasi ini, menurutnya, menempatkan posisi utang Indonesia jauh di bawah banyak negara lain, sehingga dinilai masih dalam koridor aman secara global.
Lebih jauh, Purbaya memastikan pemerintah tetap menjaga defisit anggaran pada level yang terkendali. Sepanjang 2025, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak melampaui 3% dari PDB, tepatnya tercatat 2,92%. Langkah ini dipilih bukan tanpa strategi, tetapi untuk memberikan ruang fiskal yang cukup dalam mendukung pemulihan ekonomi pascapandemi dan pascagempa di beberapa wilayah.
Purbaya menjelaskan pendekatan fiskal yang ditempuh pemerintah saat ini bukan hanya soal menekan angka utang atau defisit, tetapi bagaimana memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan tanpa mengorbankan stabilitas jangka panjang.
Kondisi utang pemerintah yang kini berada di ambang 40% PDB menjadi salah satu indikator kunci yang terus diawasi oleh pelaku pasar, investor global, serta lembaga pemeringkat internasional. Tren ini juga menjadi ujian terhadap kebijakan fiskal Indonesia di tengah tantangan ekonomi global yang masih tidak menentu.
Namun bagi Purbaya, posisi Indonesia saat ini menunjukkan bahwa pemerintah mampu memanfaatkan ruang fiskal yang tersedia secara hati-hati untuk stimulasi ekonomi, sambil menjaga disiplin anggaran agar tidak memperburuk likuiditas negara di masa depan. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini