Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 30 April 2026 |18:09 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15400 (AGM) 15450 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15205 15450 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15112 (PRISCOLIN) 14995 (MM) 15000 (AGM) 15250 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14787 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14762 14490 (MNA) 14500 (PBI) 15000 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14947 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Pasar cenderung melemah pada beberapa lokasi LOCO
  • Persaingan harga cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat beberapa grade tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Ekonomi & Bisnis

Rasio Utang RI 40,46% dari PDB, Masih Aman?

menkeu ungkap skenario jika harga minyak dunia melonjak ke us$92/barel
Menkeu ungkap skenario fiskal jika harga minyak dunia menyentuh US$92/barel, dampak pada defisit APBN, dan strategi mitigasi kebijakan pemerintah terbaru. (Ist)

Jakarta, Sinata.id — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali memberikan pernyataan tegas terkait kondisi utang pemerintah Republik Indonesia setelah rasio utang menyentuh 40,46% dari Produk Domestik Bruto (PDB) per 31 Desember 2025. Meski angka ini melonjak dibanding periode sebelumnya, Purbaya menyatakan posisi fiskal nasional masih terkendali dan berada dalam batas aman menurut standar internasional.

Rasio Utang Indonesia Dipandang Masih Sehat

Advertisement

Dalam keterangan pers usai rapat koordinasi pemulihan ekonomi pascagempa di Kompleks Parlemen, Senayan pada Rabu (18/2/2026), Purbaya menekankan bahwa rasio utang sebesar 40,46% PDB belum menunjukkan level risiko tinggi bagi perekonomian nasional. Angka ini setara dengan total utang pemerintah mencapai Rp9.637,90 triliun.

Baca Juga  Telkom Pangkas Portofolio, Bisnis Kesehatan AdMedika Resmi Dilepas ke Fullerton Health

“Dengan standar itu, kita masih aman,” ujar Purbaya, dikutip Rabu (18/2/2026).

Baca Juga: Pemerintah Salurkan Dana Miliaran untuk Korban Sumatera

Ia menilai tolok ukur kesehatan fiskal tidak cukup dilihat dari nominal utang saja, tetapi lebih kepada kemampuan negara mengelolanya tanpa mengguncang stabilitas ekonomi.

Perbandingan dengan Negara Kawasan Jadi Alasan Optimisme

Purbaya tidak hanya mengandalkan angka absolut, tetapi juga membandingkan rasio utang Indonesia dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara. Data menunjukkan:

  • Malaysia: rasio utang sekitar 64% PDB
  • Thailand: sekitar 63,5% PDB
  • Singapura: jauh lebih tinggi mencapai kisaran 165–170% PDB

Situasi ini, menurutnya, menempatkan posisi utang Indonesia jauh di bawah banyak negara lain, sehingga dinilai masih dalam koridor aman secara global.

Baca Juga  Bukan China, Ini Negara Tetangga yang Paling Banyak Memberi Utang ke Indonesia

Lebih jauh, Purbaya memastikan pemerintah tetap menjaga defisit anggaran pada level yang terkendali. Sepanjang 2025, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak melampaui 3% dari PDB, tepatnya tercatat 2,92%. Langkah ini dipilih bukan tanpa strategi, tetapi untuk memberikan ruang fiskal yang cukup dalam mendukung pemulihan ekonomi pascapandemi dan pascagempa di beberapa wilayah.

Purbaya menjelaskan pendekatan fiskal yang ditempuh pemerintah saat ini bukan hanya soal menekan angka utang atau defisit, tetapi bagaimana memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan tanpa mengorbankan stabilitas jangka panjang.

Kondisi utang pemerintah yang kini berada di ambang 40% PDB menjadi salah satu indikator kunci yang terus diawasi oleh pelaku pasar, investor global, serta lembaga pemeringkat internasional. Tren ini juga menjadi ujian terhadap kebijakan fiskal Indonesia di tengah tantangan ekonomi global yang masih tidak menentu.

Baca Juga  Liswati Wesly Silalahi Kunjungi 5 UMKM Pematangsiantar, Dorong Produktivitas dan Permodalan

Namun bagi Purbaya, posisi Indonesia saat ini menunjukkan bahwa pemerintah mampu memanfaatkan ruang fiskal yang tersedia secara hati-hati untuk stimulasi ekonomi, sambil menjaga disiplin anggaran agar tidak memperburuk likuiditas negara di masa depan. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini