Diskusi menghadirkan Br. Fransiskus Malau OFMCap sebagai pemantik. Ketua Presidium PMKRI Pematangsiantar Fransisco Mezgion Hutauruk sebagai penanggap, serta Paulinus Mersiwince Gulo sebagai moderator.
Br. Fransiskus menilai apa yang terjadi di Papua bukan sekadar proyek pembangunan biasa. Melainkan persoalan kemanusiaan dan keberlangsungan hidup masyarakat adat.
“Tanah Papua bukan tanah kosong. Ketika hutan dikonversi menjadi kebun tebu dan sawit tanpa persetujuan masyarakat adat, itu bukan pembangunan, melainkan penghancuran peradaban,” tegasnya.
Fransisco Mezgion Hutauruk menilai pola eksploitasi sumber daya atas nama investasi memiliki kemiripan dengan praktik kolonialisme gaya baru.









Jadilah yang pertama berkomentar di sini