Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Sains & Teknologi

Planet Baru Berbau Telur Busuk Ditemukan, Permukaannya Dipenuhi Lautan Magma

planet baru berbau telur busuk ditemukan, permukaannya dipenuhi lautan magma
Planet L 98-59 d. (magnific)

Jakarta, Sinata.id – Para ilmuwan dari Universitas Oxford berhasil menemukan jenis planet baru di luar Tata Surya yang dipenuhi lautan magma dan mengandung belerang dalam jumlah besar.

Penemuan ini disebut menjadi salah satu temuan paling mengejutkan dalam dunia astronomi modern.

Advertisement

Planet tersebut diberi nama L 98-59 d dan berada sekitar 35 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Volans. Planet ini mengorbit bintang kecil berwarna merah dan memiliki ukuran sekitar 1,6 kali lebih besar dibandingkan Bumi.

Meski ukurannya lebih besar, kepadatan planet tersebut justru lebih rendah dari perkiraan sehingga membuat para ilmuwan yakin bahwa L 98-59 d merupakan jenis planet baru yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya.

Tim peneliti dari Universitas Oxford bersama sejumlah ilmuwan internasional menggunakan simulasi komputer canggih untuk mempelajari struktur dan sejarah pembentukan planet tersebut.

Baca Juga  Enam Laptop Lenovo Terbaik untuk Mahasiswa 2026, Mulai Rp7 Jutaan

Hasil penelitian menunjukkan bagian dalam L 98-59 d dipenuhi batuan cair menyerupai lava yang membentuk lautan magma sangat luas dan dalam.

Berbeda dengan Bumi yang memiliki kerak padat, lautan magma di planet ini diperkirakan tetap cair selama miliaran tahun.

“Penemuan ini menunjukkan kategori planet yang selama ini digunakan para astronom mungkin terlalu sederhana,” ujar peneliti utama, Harrison Nicholls, dikutip dari laman resmi Universitas Oxford, Selasa (12/5/2026).

Teleskop luar angkasa James Webb pada 2024 juga mendeteksi keberadaan gas belerang dalam jumlah besar di atmosfer planet tersebut.

Salah satu gas yang ditemukan adalah hidrogen sulfida, senyawa yang dikenal memiliki aroma menyengat seperti telur busuk.

Baca Juga  Perkuat Privasi Pengguna, WhatsApp Hadirkan Fitur Chat Lock

Para ilmuwan meyakini sinar dari bintang induk memicu reaksi kimia di atmosfer, sementara lautan magma di bawah permukaan terus melepaskan gas belerang secara perlahan selama miliaran tahun.

Gas tersebut juga diduga menciptakan efek rumah kaca ekstrem yang membuat suhu planet tetap sangat panas.

Penelitian menyebut L 98-59 d kemungkinan awalnya merupakan planet yang jauh lebih besar dengan atmosfer tebal menyerupai sub-Neptunus.

Namun seiring waktu, planet itu perlahan kehilangan sebagian atmosfernya dan menyusut menjadi ukuran seperti sekarang.

Menariknya, kondisi awal planet ini disebut memiliki kemiripan dengan fase awal Bumi dan Mars miliaran tahun lalu.

Karena itu, mempelajari L 98-59 d diyakini dapat membantu ilmuwan memahami proses pembentukan planet di alam semesta.

Baca Juga  Apa Jadinya Jika Matahari Menghilang? Ini Dampak Mengerikan bagi Bumi

Profesor Raymond Pierrehumbert dari Universitas Oxford mengatakan teknologi simulasi modern kini memungkinkan ilmuwan menelusuri sejarah planet yang berada sangat jauh dari Bumi.

Dengan data massa, ukuran, dan komposisi atmosfer, para peneliti dapat merekonstruksi kondisi bagian dalam planet secara detail.

Ke depan, para ilmuwan berencana mengembangkan penelitian menggunakan data dari misi luar angkasa berikutnya untuk menemukan lebih banyak jenis planet baru di luar Tata Surya.

Penemuan L 98-59 d pun memperlihatkan bahwa keragaman planet di galaksi jauh lebih luas dibandingkan yang selama ini diperkirakan para astronom. (A02)

 

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini