Beijing, Sinata.id – Persaingan strategis antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok terus berkembang, tidak hanya di bidang ekonomi dan perdagangan, tetapi juga dalam sektor militer, teknologi, dan eksplorasi ruang angkasa.
Mantan Kolonel Senior Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), Zhou Bo, menegaskan bahwa kebangkitan Tiongkok sebagai kekuatan global tidak lagi menjadi prediksi masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung.
“Saya pikir kebangkitan Tiongkok tidak dapat dihindari. Tiongkok bukan sedang bangkit, tetapi sudah bangkit. Pertanyaannya adalah bagaimana negara ini akan berperilaku di panggung internasional,” ujar Zhou, seperti dilansir Sabtu (6/6/2026).
Saat ini, Zhou menjabat sebagai Peneliti Senior di Pusat Keamanan dan Strategi Internasional Universitas Tsinghua. Ia memulai karier militernya pada 1979, ketika modernisasi besar-besaran militer Tiongkok mulai dijalankan.
Menurut Zhou, AS masih menjadi kekuatan militer paling dominan di dunia. Namun, Beijing memiliki target jangka panjang untuk menyamai kemampuan tersebut.
“Ketika Tiongkok memperingati 100 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 2049, kami menargetkan menjadi militer kelas dunia. Itu berarti kami berharap dapat mengejar ketertinggalan dari militer AS pada saat itu,” katanya.
Modernisasi Militer Tiongkok
Pada era kepemimpinan Mao Zedong, jumlah personel militer Tiongkok mencapai sekitar 6,5 juta prajurit. Namun, ketika Deng Xiaoping mengambil alih kepemimpinan, strategi pertahanan mengalami perubahan besar.
Deng menekankan modernisasi dan kualitas pasukan dibandingkan jumlah personel. Reformasi tersebut menjadi fondasi bagi transformasi PLA menjadi kekuatan militer yang lebih modern dan berbasis teknologi.
Dalam beberapa dekade terakhir, Tiongkok terus meningkatkan kemampuan pertahanannya melalui penguatan armada angkatan laut, pengembangan sistem rudal canggih, serta perluasan persediaan hulu ledak nuklir.
“Saya melihat adanya unsur persaingan antara kedua negara. Kekuatan militer Tiongkok terus berkembang dan semakin mendekati kemampuan Amerika Serikat,” ujar Zhou.
Persaingan Baru di Ruang Angkasa
Kompetisi antara Washington dan Beijing juga meluas ke sektor antariksa. Hubungan erat antara program luar angkasa Tiongkok dengan sektor pertahanan menjadi perhatian pemerintah AS.
Meski demikian, Zhou menegaskan bahwa Tiongkok tidak memiliki kepentingan untuk menjadikan ruang angkasa sebagai arena konflik bersenjata.
“Kita masih memiliki banyak persoalan di Bumi. Mengapa harus menempatkan senjata di luar angkasa untuk menyerang tanah air sendiri? Itu terdengar tidak masuk akal,” katanya.
Namun, ia mengakui bahwa ruang angkasa telah menjadi domain strategis baru yang berkaitan dengan keunggulan teknologi dan keamanan nasional.
Kemampuan Anti-Satelit Jadi Sorotan
Salah satu momen yang menarik perhatian dunia terjadi pada 2007 ketika PLA berhasil menghancurkan satelit cuaca yang sudah tidak beroperasi menggunakan rudal anti-satelit (ASAT) berbasis darat.
Menurut Zhou, kemampuan tersebut memang dimiliki Tiongkok sebagai bagian dari sistem pertahanan modern.
“Kami memiliki kemampuan anti-satelit untuk menargetkan satelit menggunakan rudal. Di ruang angkasa, sering kali sulit menentukan apa yang dapat dikategorikan sebagai senjata dan apa yang bukan,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Intelijen Pertahanan AS menilai Tiongkok kemungkinan telah mengembangkan kemampuan ASAT untuk menjangkau orbit yang lebih tinggi serta terus memperluas teknologi antariksa militer.
Dorongan Stabilitas Strategis Global
Pendiri sekaligus Presiden Pusat untuk Tiongkok dan Globalisasi, Henry Wang, menilai hubungan kedua negara kini telah melampaui sekadar persaingan strategis.
“Kita tidak lagi hanya berbicara tentang kompetisi strategis, tetapi juga stabilitas strategis. AS dan Tiongkok harus menciptakan keseimbangan demi kepentingan kedua negara dan stabilitas dunia,” kata Wang.
Di tengah dinamika tersebut, Presiden AS Donald Trump terus mendorong penguatan sektor teknologi nasional guna mempertahankan keunggulan AS dalam menghadapi perkembangan pesat Tiongkok di bidang militer, teknologi, dan antariksa. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini