New Delhi, Sinata.id – Dunia politik India mendadak dihebohkan dengan kemunculan gerakan satir bernama Cockroach Janata Party atau Partai Rakyat Kecoak. Gerakan yang awalnya muncul sebagai lelucon di media sosial itu kini berkembang menjadi simbol perlawanan generasi muda terhadap situasi politik dan sosial di India.
Fenomena tersebut bermula setelah Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, melontarkan pernyataan kontroversial dalam sebuah persidangan pada 15 Mei 2026.
Dalam sidang tersebut, Surya Kant mengkritik sejumlah pemuda India yang dianggap tidak memiliki pekerjaan dan menyamakan sebagian dari mereka dengan “kecoak”.
“Ada anak-anak muda seperti kecoak yang tidak mendapatkan pekerjaan. Beberapa menjadi media sosial, aktivis RTI, lalu menyerang semua orang,” ujarnya.
Pernyataan itu langsung memicu kemarahan publik, terutama kalangan Generasi Z India yang saat ini menghadapi tingginya angka pengangguran, inflasi, dan polarisasi sosial-politik.
Gerakan ini kemudian dipelopori oleh Abhijeet Dipke, seorang lulusan hubungan masyarakat dari Boston University yang mendirikan akun media sosial serta platform daring Cockroach Janata Party sebagai bentuk sindiran terhadap elit politik India.
“Hari ini mereka menganggap warga negara seperti kecoak dan parasit,” ujar Dipke.
“Hama kecoak berkembang di tempat yang busuk, dan seperti itulah kondisi India saat ini,” lanjutnya.
Dalam waktu singkat, akun Instagram Cockroach Janata Party mengalami lonjakan pengikut secara drastis. Pada Selasa (19/5/2026) malam, jumlah pengikutnya telah mencapai lebih dari satu juta akun dan terus melonjak hingga menembus empat juta pengikut hanya dalam beberapa jam.
Tak hanya viral di media sosial, gerakan tersebut juga menarik perhatian tokoh oposisi dan mantan birokrat India yang ikut menyatakan dukungan secara terbuka.
Mantan birokrat federal India, Ashish Joshi, mengaku ikut bergabung karena menilai masyarakat India selama satu dekade terakhir hidup dalam suasana penuh ketakutan untuk menyuarakan kritik.
“Dalam satu dekade terakhir, banyak orang takut berbicara di negara ini,” ujarnya.
Gerakan satir tersebut juga menyindir pemerintahan Perdana Menteri India, Narendra Modi, yang selama ini kerap menyebut India sebagai “vishwaguru” atau pemimpin global.
Saat akun partai itu diduga mengalami upaya peretasan, Dipke bahkan mengunggah sindiran yang menyebut pihak tertentu takut terhadap anak muda usia 20-an tahun.
Meski gerakan ini awalnya muncul sebagai satire politik, Dipke menegaskan bahwa Cockroach Janata Party kini berkembang menjadi wadah ekspresi kekecewaan generasi muda terhadap sistem politik India.
“Ini bukan lagi sekadar lelucon atau satir. Sekarang menjadi sangat serius,” katanya.
Menurut Dipke, banyak pemuda India merasa frustrasi terhadap kondisi sosial dan politik yang dinilai tidak memberi ruang bagi suara kritis masyarakat.
“Saya pikir ini bukan hanya soal komentar Ketua Mahkamah Agung. Ini tentang kondisi politik secara keseluruhan, ketika selama bertahun-tahun orang takut berbicara melawan kekuasaan,” ujarnya.
Gerakan tersebut kini dikabarkan tengah mempersiapkan konferensi virtual pertama yang akan diikuti ratusan ribu anggota yang telah mendaftar secara daring.
Sementara itu, partai penguasa Bharatiya Janata Party (BJP) hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait viralnya gerakan Cockroach Janata Party tersebut. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini