Pemerintah juga menjalankan program profilaksis bagi ibu hamil sejak 2024 melalui pemberian antivirus Tenofovir (TDF) guna mencegah penularan hepatitis dari ibu kepada bayi.
Selain itu, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) diperluas pada 2025 untuk meningkatkan cakupan skrining nasional.
Pada 2026, pemerintah menargetkan skrining dapat menjangkau hingga 136 juta penduduk.
“Pemeriksaan mencakup HBsAg serta deteksi dini fibrosis hati menggunakan metode APRI berbasis tes darah,” ungkapnya dikutip dari InfoPublik.
Pemerintah juga memperkuat upaya pencegahan melalui kebijakan pelabelan gizi untuk mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang menjadi salah satu faktor risiko penyakit hati berbasis metabolik.
Secara global, penyakit hati kronis telah menyerang lebih dari 300 juta orang dan menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahun atau hampir empat kematian setiap menit.
Budi menegaskan pentingnya deteksi dini karena penyakit hati berkembang secara bertahap, mulai dari peradangan, fibrosis, sirosis hingga kanker hati. Karena itu, percepatan skrining menjadi langkah penting untuk menghentikan perkembangan penyakit sejak tahap awal.
“Dengan mempercepat deteksi dan pencegahan, kita bisa meningkatkan kualitas hidup dan angka harapan hidup masyarakat yang saat ini rata-rata sekitar 74 tahun,” ujarnya.
Ia berharap penguatan strategi promotif dan preventif yang dilakukan pemerintah tidak hanya mampu mengejar target WHO, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional dalam jangka panjang. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini