Banda Aceh, Sinata.id β Asap tipis mengepul dari sebuah kuali besar yang diletakkan di atas tungku. Aroma rempah-rempah perlahan menyebar, mengundang siapa saja yang melintas untuk mendekat.
Di sekelilingnya, sejumlah warga tampak sibuk. Ada yang memotong daging, mengiris umbut pisang, sementara yang lain mengaduk masakan dengan sendok kayu berukuran besar.
Pemandangan seperti itu bukan hal baru bagi masyarakat Aceh. Sejak dulu, kuah beulangong telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Tanah Rencong.
Kuah beulangong merupakan salah satu kuliner tradisional Aceh yang kini semakin dikenal luas, bahkan hingga mancanegara. Hidangan ini berbahan dasar daging sapi atau kerbau yang dimasak bersama aneka rempah khas Aceh, menghasilkan cita rasa kaya dengan aroma yang begitu menggugah selera.
Keunikan kuah beulangong tidak hanya terletak pada racikan bumbunya. Di Aceh Besar, hidangan ini biasanya dipadukan dengan umbut pisang muda yang memberikan tekstur dan rasa khas. Sementara di daerah lain, ada yang menambahkan nangka muda atau labu air sebagai pelengkap.
Bagi masyarakat Aceh, kuah beulangong bukan sekadar makanan. Hidangan ini merupakan simbol kebersamaan yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.
Setiap kali digelar kenduri besar, perayaan adat, maupun penyambutan tamu penting, kuah beulangong hampir selalu hadir sebagai menu utama. Bahkan bagi sebagian masyarakat, sebuah hajatan terasa belum lengkap tanpa sajian kuliner legendaris tersebut.
Proses memasaknya pun menjadi bagian dari tradisi yang mempererat hubungan sosial warga. Sejak pagi hari, kaum laki-laki biasanya berkumpul di lokasi hajatan untuk bergotong royong menyiapkan bahan-bahan masakan.
Daging dipotong bersama, umbut pisang diiris secara bergantian, sementara para peracik bumbu memastikan setiap bahan tercampur dengan komposisi yang tepat. Suasana kebersamaan inilah yang diyakini menjadi salah satu rahasia kelezatan kuah beulangong.
βMemasak kuah beulangong tidak bisa dilakukan sembarangan. Yang paling penting adalah menjaga keseimbangan rasa rempah-rempahnya. Kalau kurang atau berlebihan, cita rasa khasnya bisa hilang,β kata Zulkifli, peracik kuah beulangong dari Gampong Lam Lumpu, Kecamatan Peukan Bada, kepada Sinata.id, Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, pengalaman dan ketelitian sangat dibutuhkan dalam meracik masakan tersebut. Karena itu, biasanya ada orang-orang tertentu yang dipercaya untuk mengawasi rasa selama proses memasak berlangsung.
Popularitas kuah beulangong kini tidak hanya terbatas di Aceh. Kuliner khas ini telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia melalui para perantau Aceh yang membuka usaha rumah makan.
Di sejumlah kota seperti Medan, Kisaran, hingga Tebing Tinggi, menu kuah beulangong semakin mudah ditemukan. Meski berada jauh dari kampung halaman, para pelaku usaha tetap mempertahankan cita rasa autentiknya dengan mendatangkan langsung bumbu dan rempah-rempah dari Aceh.
Salah seorang peracik dan penyedia bumbu khas Aceh Besar, Zulkarnaini, mengungkapkan bahwa racikan rempah buatannya bahkan telah dikirim ke berbagai negara.
βBanyak pesanan datang dari Malaysia, Brunei Darussalam, Denmark, hingga Swedia. Umumnya yang memesan adalah warga Aceh yang tinggal di luar negeri,β ujarnya.
Tak heran jika kuah beulangong kini mulai dikenal oleh masyarakat internasional. Sejumlah negara seperti Denmark, Turki, dan Swedia disebut memiliki cukup banyak penikmat kuliner khas Aceh tersebut.
Para wisatawan yang berkunjung ke Aceh pun kerap menjadikan kuah beulangong sebagai menu yang wajib dicicipi. Selain kuah beulangong, kuliner lain yang juga banyak diburu adalah kari bebek masak putih yang tak kalah legendaris.
Kekayaan kuliner Aceh menjadi bukti kuatnya warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat hingga saat ini. Di tengah derasnya arus modernisasi, berbagai resep peninggalan leluhur tetap lestari dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kuah beulangong pun menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, tradisi, dan identitas masyarakat Aceh yang terus hidup dari masa ke masa. (SN24)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini