Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 11 Mei 2026 |15:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14975 14774 (MNA) 14550 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO KEMBAYAN
14875 14624 (MNA) 14450 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO PARINDU
14885 14699 (MNA) 14550 (PBI) 14975 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI dan segmen LOCO
  • Persaingan harga masih cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Wisata & Kuliner

100 Tahun Kopi Kok Tong Melegenda dari Siantar

dari kota pematangsiantar, kopitiam (warung kopi) kok tong semakin melegenda. cita rasanya yang khas, tetap dipertahankan pewaris hingga saat ini. membuat penikmat kopi selalu setia untuk menyeruput kopi kok tong.
Akiong saat meracik kopi Kok Tong

Pematangsiantar, Sinata.id – Dari Kota Pematangsiantar, Kopitiam (Warung Kopi) Kok Tong semakin melegenda. Cita rasanya yang khas, tetap dipertahankan pewaris hingga saat ini. Membuat penikmat kopi selalu setia untuk menyeruput kopi Kok Tong.

29 Januari 2025 yang lalu, 100 tahun sudah usia Warung Kopi Kok Tong yang terletak di Perempatan (Warkop) Jalan Cipto Mangunkusumo dengan Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Kelurahan Dwikora, Kecamatan Siantar Barat, Kota Siantar, Sumatera Utara.

Advertisement

Hadirnya Warkop Kok Tong di Pematangsiantar, berawal dari, sekaligus bukti kegigihan seorang anak muda dari Kota Fu Zhou, Provinsi Fu Jian, Tiongkok, yang merantau ke Indonesia sekira tahun 1900-an.

Anak muda itu adalah Lim Tee Kee. Saat merantau, kakek dari pengelola Warkop Kok Tong di Perempatan Jalan Cipto dengan Jalan Dr Wahidin saat ini, ketika itu masih berusia 18 tahun. Ia lahir tahun 1896.

Beberapa tahun di perantauan, persisnya pada 29 Januari 1925, Lim Tee Kee membuka usaha warung kopi pertamanya di Pematangsiantar, dengan nama Heng Seng.

Baca Juga  5 Destinasi Liburan Long Weekend Dekat Jakarta, dari Bandung hingga Kepulauan Seribu

“Tahun 1925 pertama kali kakek kami membuka warung kopi ini. Namanya saat itu masih Heng Seng,” ucap Paimin Halim yang sering disapa Akiong, Senin 17 Pebruari 2025.

Usaha warung kopi yang berdiri di zaman Hindia Belanda itu, hingga kini, terus bertahan. Dan saat ini, telah pula melebarkan sayapnya ke berbagai daerah oleh pewaris Lim Tee Kee. Seperti di Jakarta, Medan, Bandar Udara (Bandara) Internasional Kuala Namu, serta di berbagai daerah yang ada di Sumatera Utara maupun di luar Sumatera Utara.

Tahun 1970, Warkop Kok Tong dikelola (diteruskan) putra dari Lim Tee Kee bernama Lim Kok Tong (ayah kandung Akiong).

Di masanya, Lim Kok Tong membuka pabrik bubuk kopi Kok Tong, lalu mengubah nama warung kopi menjadi Massa Kok Tong, yang saat ini semakin populis dan melegenda, dengan tetap mempertahankan tradisi dan cita rasanya yang khas.

Baca Juga  Misteri Dapur Magma Raksasa di Kedalaman Danau Toba

Sejumlah penikmat kopi mengaku, setiap harinya, harus menyeruput kopi Kok Tong. “Gak bisa tidak. Minimal dua kali aku ngopi di Kok Tong ini. Rasanya tetap, gak berubah sejak dulu,” ujar Carles di Warkop Kok Tong yang ada di Perempatan Jalan Cipto dengan Jalan Dr Wahidin, beberapa waktu lalu.

Saat ini, Warkop atau Cafe Kok Tong tak lagi sulit untuk ditemukan di Kota Pematangsiantar. Di Jalan Cipto saja, sudah ada beberapa warkop atau cafe Kok Tong. Belum lagi di Jalan Sutomo, di Komplek Mega Land, maupun di lokasi lainnya.

Meski warung semakin bertambah cukup signifikan, namun pelanggan (penikmat kopi) Kok Tong tak pernah sepi. Bahkan, tokoh nasional, tokoh daerah dan tokoh lokal, tidak sedikit yang sudah menyeruput kopi Kok Tong.

Teranyar, Calon Presiden Anies Baswedan, tampak menikmati sajian Kok Tong yang ada di Jalan Sutomo. Juga sejumlah menteri, Anggota DPR-RI di masanya, juga pernah berkunjung ke sana.

Baca Juga  Bika Ambon Medan: Sejarah, Resep, dan Keistimewaannya sebagai Ikon Kuliner Sumut

“Apalagi pejabat publik lokal, ya sudah tidak terhitung lah. Malah kami (sejumlah wartawan), tidak jarang wawancara dengan nara sumber (pejabat publik) di Kok Tong,” tutur P Siahaan, seorang jurnalis yang cukup senior di Kota Siantar.

Uniknya, lanjut P Siahaan, bukan hanya elit politik, tokoh publik, dan pengusaha sukses yang menyeruput kopi Kok Tong. Melainkan, kelompok masyarakat awam, juga cukup banyak. “Itu karena, harganya yang masih terjangkau,” katanya.

Akiong yang juga memiliki nama Lim Ciang mengatakan, ia mengelola Warung Kopi Kok Tong saat ini, merupakan generasi ke tiga. “Dan bahkan saat ini sudah diteruskan oleh generasi ke empat. Yakni, anak saya,” ucapnya.

Katanya, cita rasa yang khas dan tradisi yang kental, menjadi hal yang harus tetap dipertahankan dari setiap cangkirnya. “Cita rasa dan tradisinya harus tetap kami pertahankan. Hal itu menjadi pesan yang kami wariskan kepada anak kami untuk dipegang teguh,” sebutnya. (*)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini