Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 18 Mei 2026 |17:55 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15225 15200 (TON) 15170 (AGM) 15300 EUP ACC
N4 N4 (N4)
Vol: 0.5K · DMI
15225 15170 (AGM) 15150 (IBP) 15300 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · LOCO PARINDU
15225 15170 (AGM) 15150 (IBP) 15300 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · FOB PALOPO
14785 14550 (PBI) 14445 (MNA) 14950 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI dengan ACC di level 15.300. Persaingan harga masih kompetitif antar bidder. Tender LOCO PARINDU berakhir WD, sementara tender FOB PALOPO belum terdapat bidder.
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Kepercayaan Pasar Tentukan Stabilitas Rupiah

kepercayaan pasar tentukan stabilitas rupiah
Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Kholid (ft: parlementaria)

Jakarta, Sinata.id – Anggota Komisi XI DPR RI, Muhammad Kholid, menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan gejolak pasar keuangan tidak cukup direspons hanya melalui kebijakan teknis moneter.

Menurutnya, faktor utama dalam menjaga stabilitas ekonomi saat ini adalah kemampuan otoritas membangun kepercayaan publik serta mengelola ekspektasi pasar.

Advertisement

Dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026), Kholid mengatakan pasar keuangan saat ini bergerak sangat cepat dan sensitif terhadap persepsi investor.

Karena itu, komunikasi yang konsisten antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan otoritas fiskal dinilai sangat penting agar tidak muncul kekhawatiran berlebihan terhadap kondisi ekonomi nasional.

Baca Juga  Prabowo Unggah Momen Bersama Titiek Soeharto dan Didit Jelang Lebaran 2026

Politikus Fraksi Partai Keadilan Sejahtera itu menyebut pengelolaan ekspektasi pasar menjadi bagian strategis yang tidak kalah penting dibanding kebijakan teknis di sektor moneter.

Ia menilai pasar kini lebih fokus membaca risiko dan arah kebijakan masa depan dibanding sekadar melihat data ekonomi saat ini.

Kholid menjelaskan pola perilaku investor global telah berubah. Jika sebelumnya keputusan investasi banyak didasarkan pada data historis, kini pelaku pasar lebih mempertimbangkan proyeksi risiko di masa mendatang sebelum menentukan langkah investasi.

Ia juga menyinggung teori rational expectation yang diperkenalkan ekonom Robert Lucas untuk menggambarkan cara pasar bekerja saat ini. Menurutnya, investor, hedge fund, dan pelaku industri akan menghitung potensi risiko masa depan sebelum menentukan nilai investasi pada saat ini.

Baca Juga  Tekankan Kepastian Kearifan Lokal, Baleg DPR Dorong RUU Masyarakat Adat Segera Disahkan

Dalam pandangannya, tantangan terbesar pemerintah bukan hanya menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga menghilangkan persepsi bahwa Indonesia sedang menuju kondisi krisis seperti tahun 1998.

Ia menilai trauma ekonomi masa lalu masih memengaruhi cara publik dan pelaku pasar membaca situasi ekonomi nasional saat ini.

Karena itu, Kholid menekankan pentingnya pesan yang jelas, konsisten, dan terkoordinasi dari seluruh otoritas ekonomi.

Menurutnya, kekompakan antara otoritas moneter, sektor jasa keuangan, dan pemerintah pusat akan memberikan sinyal positif kepada pasar bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan krisis 1998. (A18)

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini