Jakarta, Sinata.id – Sebuah restoran Padang di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, menjadi sorotan di media sosial setelah rombongan wisatawan asal Malaysia dituduh meninggalkan restoran tanpa membayar tagihan makanan.
Peristiwa tersebut bermula dari unggahan seorang warga negara Malaysia bernama Norain Mohd Yunus melalui akun Threads miliknya.
Dalam unggahan itu, Norain mengaku dirinya bersama rombongan mendadak viral setelah disebut belum melunasi pembayaran makan di RM Pagi Sore cabang PIK pada 13 Mei 2026.
Saat itu, rombongan wisatawan tersebut baru tiba di Jakarta menggunakan penerbangan pagi sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bandung dengan kereta cepat Whoosh.
Mereka memilih makan terlebih dahulu di restoran tersebut sebelum berangkat ke Bandung.
Menurut pengakuan Norain, total tagihan makanan yang dibayarkan mencapai Rp907.500 menggunakan metode pembayaran non-tunai.
Masalah muncul beberapa hari kemudian ketika sopir dari agen perjalanan yang mengantar rombongan menghubunginya dan meminta bukti pembayaran restoran.
Norain mengaku terkejut setelah mengetahui rombongannya disebut meninggalkan restoran tanpa melunasi pembayaran.
Ia kemudian mencari bukti transaksi digital dan struk pembayaran yang masih tersimpan di dalam tasnya.
“Bayangkan jika kami membayar tunai dan bukti pembayarannya hilang,” tulis Norain dalam unggahannya.
Setelah bukti transaksi diperlihatkan, pihak RM Pagi Sore cabang PIK akhirnya mengakui terjadi kesalahpahaman dalam proses verifikasi pembayaran.
Melalui video klarifikasi, pihak restoran menyebut insiden tersebut murni terjadi akibat miskomunikasi dan bukan unsur kesengajaan dari pihak mana pun.
“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan berharap hubungan baik tetap terjaga,” ujar perwakilan restoran.
Meski klarifikasi dan permintaan maaf telah disampaikan, kasus tersebut telanjur ramai diperbincangkan di media sosial, terutama di kalangan warganet Malaysia.
Sejumlah pengguna media sosial menilai pihak restoran seharusnya melakukan pengecekan transaksi secara menyeluruh sebelum menyebarkan dugaan pelanggan belum membayar.
Beberapa warganet juga menyoroti pentingnya menyimpan bukti pembayaran, khususnya saat menggunakan metode transaksi digital.
Bahkan, salah satu akun agen perjalanan asal Malaysia menyerukan boikot terhadap RM Pagi Sore karena menilai tuduhan tersebut telah merugikan pelanggan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kesalahan komunikasi dan verifikasi pembayaran dapat berkembang menjadi polemik besar di media sosial apabila tidak ditangani secara hati-hati. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini