Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

Kementan Genjot Hilirisasi, Fokus 7 Komoditas Unggulan

kementan genjot hilirisasi, fokus 7 komoditas unggulan
Kementan Genjot Hilirisasi, Fokus 7 Komoditas Unggulan

Jakarta, Sinata.id – Kementerian Pertanian Republik Indonesia mempercepat program hilirisasi subsektor perkebunan guna meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus mendorong kesejahteraan pekebun.

Langkah ini dilakukan melalui penyiapan lahan, identifikasi Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL), serta penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.

Advertisement

Program hilirisasi difokuskan pada tujuh komoditas strategis, yakni tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete yang dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan industri berbasis perkebunan.

Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp9,5 triliun untuk mengembangkan sekitar 870 ribu hektare kebun rakyat pada periode 2025–2027.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, hilirisasi menjadi kunci agar komoditas perkebunan tidak lagi bergantung pada penjualan bahan mentah.

Baca Juga  Tani On Stage Edukasi Warga Belanja Pangan Bijak Jelang Lebaran

Menurutnya, pengolahan hasil perkebunan menjadi produk bernilai tambah tinggi akan memberikan dampak ekonomi lebih besar bagi pekebun maupun perekonomian nasional.

Pemerintah juga memastikan kesiapan ekosistem pendukung, mulai dari lahan, kelompok tani, hingga industri pengolahan agar program berjalan berkelanjutan.

Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menyebutkan proses penyiapan dilakukan melalui pemetaan potensi lahan serta verifikasi langsung di lapangan.

Koordinasi dengan pemerintah daerah dan pekebun terus diperkuat guna memastikan kesiapan implementasi program.

Selain peningkatan budidaya, pengembangan produk turunan juga menjadi perhatian, seperti gula dari tebu, olahan kelapa, cokelat dari kakao, hingga produk rempah dari pala dan lada.

Melalui strategi ini, subsektor perkebunan diharapkan bertransformasi dari sekadar penyedia bahan baku menjadi industri bernilai tambah yang mampu membuka peluang usaha baru dan meningkatkan kesejahteraan pekebun di berbagai daerah. (A18)

Baca Juga  Pemerintah Salurkan Dana Miliaran untuk Korban Sumatera

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini