Dalam pernyataan resminya, Iran menyebut langkah Washington sebagai upaya yang semakin memperburuk perlakuan terhadap skuad nasional mereka.
Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan bahwa Ketua Federasi Sepak Bola Iran beserta wakilnya termasuk di antara pejabat yang ditolak masuk ke Amerika Serikat.
Pemerintah Iran juga meminta campur tangan dari FIFA selaku badan sepak bola dunia untuk menyikapi persoalan tersebut.
Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi pertama yang mempertemukan negara tuan rumah dengan peserta yang berasal dari negara yang sedang berada dalam konflik terbuka.
Iran memastikan tiket ke putaran final setelah menjadi juara grup pada kualifikasi zona Asia yang berakhir pada Maret 2025.
Sebagai langkah antisipasi terhadap situasi politik yang berkembang, Iran diketahui telah memindahkan pusat latihan tim dari Arizona ke Meksiko pada akhir Mei lalu.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan delegasi sepak bola Iran tidak akan diizinkan membawa individu yang memiliki keterkaitan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), salah satu institusi militer paling berpengaruh di Iran.
Meski demikian, beberapa pemain dalam skuad Iran diketahui pernah menjalani wajib militer yang melibatkan institusi tersebut, sebuah kewajiban yang berlaku bagi warga negara Iran.
Iran dijadwalkan memulai kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan menghadapi tim nasional Belgia dan Mesir setelah melakoni laga pembuka di Los Angeles pada 15 Juni mendatang.
Kontroversi visa ini diperkirakan akan menjadi salah satu isu yang menyita perhatian menjelang bergulirnya turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini