Jakarta, Sinata.id – Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyatakan bahwa kepemimpinan Indonesia di Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2026 menjadi momentum strategis bagi negara-negara berkembang untuk mendorong reformasi tata kelola global.
Pernyataan itu disampaikan Boroujerdi dalam pidatonya pada Resepsi Hari Nasional Republik Islam Iran yang berlangsung di Jakarta, Selasa malam. Acara tersebut dihadiri sejumlah perwakilan korps diplomatik, pejabat pemerintah Indonesia, serta tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, mengutip infopublik.id, Boroujerdi menyatakan bahwa posisi Indonesia sebagai pemimpin di forum HAM PBB membuka ruang bagi penguatan prinsip keadilan dalam sistem internasional.
“Kepemimpinan Indonesia di Dewan HAM memberikan peluang berharga bagi kedua negara kita, bersama dengan negara-negara merdeka lainnya, untuk mengoperasionalkan visi bersama tentang tatanan dunia yang lebih adil dan seimbang,” ujar Boroujerdi.
Ia menekankan bahwa Indonesia dapat mendorong prinsip non-selektivitas, ketidakberpihakan, dan universalitas dalam pembahasan HAM di tingkat global. Menurutnya, politisasi isu HAM sebagai alat tekanan politik harus dicegah.
Boroujerdi juga menyoroti situasi internasional yang dinilainya semakin timpang. Ia mengkritik kebijakan Amerika Serikat dan Israel yang disebutnya berkontribusi terhadap terciptanya kondisi “hukum rimba” dalam hubungan antarnegara.
“Dalam lingkungan seperti ini, para pemimpin tertentu merasa berhak untuk bertindak tanpa hukuman di mana pun di dunia, sehingga menciptakan preseden berbahaya dalam sistem internasional,” tegasnya.
Di tengah ketegangan global yang meningkat, Boroujerdi menilai Iran dan Indonesia memiliki peran strategis sebagai kekuatan menengah yang berpengaruh. Kedua negara, menurutnya, secara konsisten menjalankan politik luar negeri yang damai dan non-blok.
“Berdasarkan peran yang tidak dapat disangkal di Asia Barat dan Asia Tenggara, Iran dan Indonesia secara konsisten berupaya mengelola dan membendung persaingan serta ketegangan regional,” kata Boroujerdi.
Terkait hubungan bilateral, Dubes Iran mengakui bahwa kerja sama kedua negara terus menguat dalam beberapa tahun terakhir. Namun demikian, ia menilai masih banyak bidang kerja sama yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Masih banyak jalur kerja sama yang belum tereksplorasi antara dua bangsa Islam besar ini,” ucapnya.
Resepsi diplomatik itu menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Nasional Iran yang jatuh setiap 11 Februari. (A58)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini