Oleh: Pdt. Manser Sagala, M.Th.
Hidup tidak memikirkan diri sendiri adalah inti dari ajaran kasih dalam kekristenan. Hal ini bukan sekadar tentang bersikap “baik”, melainkan sebuah transformasi hati untuk meneladani pengorbanan Kristus yang radikal.
Berikut adalah penjelasan mengenai konsep tersebut berdasarkan Firman Tuhan:
1. Menjadikan Kristus sebagai Standar Utama
Dasar dari hidup yang tidak mementingkan diri sendiri adalah kenosis (pengosongan diri). Yesus tidak mempertahankan hak-hak-Nya sebagai Allah, melainkan memilih untuk melayani.
Filipi 2:3-5: “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia… Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”
Baca juga:Renungan Pagi Kristen: Makna Ulangan 27:22 dan Larangan Inses dalam Perspektif Alkitab
Maknanya: Kita dipanggil untuk mengalihkan fokus dari “Apa keuntungan bagiku?” menjadi “Bagaimana aku bisa menjadi berkat bagi sesama?”
2. Definisi Kasih yang Sesungguhnya
Dalam pandangan Alkitab, kasih bukanlah sekadar perasaan, melainkan tindakan pengorbanan. Tidak ada pengorbanan yang lebih besar daripada memberikan nyawa atau kepentingan pribadi demi orang lain.
Yohanes 15:13: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
1 Yohanes 3:16: “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.”
3. Menyangkal Diri dan Memikul Salib
Yesus menegaskan bahwa syarat mengikut Dia adalah melepaskan ego. Berani berkorban berarti siap kehilangan kenyamanan, waktu, bahkan reputasi demi ketaatan kepada Tuhan.
Matius 16:24: “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.’”
Maknanya: Menyangkal diri berarti berkata “tidak” pada keinginan daging yang egois dan berkata “ya” pada kehendak Allah.
4. Prioritas Kerajaan Allah di Atas Kepentingan Pribadi
Hidup yang tidak memikirkan diri sendiri juga berarti percaya sepenuhnya pada pemeliharaan Tuhan, sehingga kita tidak lagi sibuk mencemaskan kebutuhan kita sendiri secara berlebihan.
Matius 6:33: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
1 Korintus 10:24: “Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.”
Kesimpulan
Hidup seperti Yesus berarti memiliki hati seorang hamba. Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Markus 10:45). Ketika kita berhenti terobsesi dengan diri sendiri, kita justru menemukan tujuan hidup yang sejati dan kedamaian yang melampaui segala akal.
Catatan penting: Berkorban bukan berarti membiarkan diri hancur tanpa arah, melainkan memberikan diri secara sengaja demi tujuan yang mulia (Kerajaan Allah).
Baca juga:Hidup Tanpa Ego: Kunci Damai dan Berkat dalam Keluarga Kristen
Hidup yang tidak mementingkan diri sendiri bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan rohani yang lahir dari kasih Kristus.
Ketika kita memilih untuk mengosongkan diri, Tuhan justru memenuhi hidup kita dengan damai dan sukacita yang sejati. Sebab siapa yang kehilangan nyawanya karena Kristus, ia akan memperolehnya kembali.
Kiranya kita terus dimampukan untuk berkata seperti Rasul Paulus:
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20)
Mari berjalan dalam kasih, melayani dengan kerendahan hati, dan mengutamakan Kerajaan Allah di atas segala kepentingan pribadi. Karena pada akhirnya, hidup yang dipersembahkan bagi Tuhan tidak akan pernah sia-sia.
Soli Deo Gloria.
Tuhan Yesus memberkati kita semua. (A27)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini