Info Market CPO
πŸ—“ Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K β€’ 0.3K β€’ 0.2K β€’DMI β€’ LOCO NGABANG β€’ LOCO PARINDU β€’ LOCO KEMBAYAN β€’ LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K Β· DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K Β· DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K Β· LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K Β· LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K Β· LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K Β· LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
πŸ‘₯Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
News

Harga Bitcoin Rontok dalam Hitungan Menit, Likuidasi Ratusan Juta Dolar Guncang Pasar Kripto Global

harga bitcoin anjlok tajam tanpa sentimen negatif pada pertengahan desember. aksi likuidasi ratusan juta dolar mengguncang pasar kripto global.
Harga Bitcoin anjlok tajam tanpa sentimen negatif pada pertengahan Desember. Aksi likuidasi ratusan juta dolar mengguncang pasar kripto global. (Ilustrasi)

Sinata.id – Pasar kripto dikejutkan oleh kejatuhan mendadak harga Bitcoin pada pertengahan Desember. Tanpa didahului kabar negatif besar, nilai aset digital terbesar di dunia itu anjlok tajam hanya dalam hitungan menit, memicu kepanikan di kalangan pelaku pasar global.

Dalam kurun waktu kurang dari satu jam pada Senin (16/12/2025), harga Bitcoin merosot lebih dari US$3.000 dan sempat menyentuh kisaran US$86.000.

Advertisement

Kecepatan koreksi ini membuat pasar bergejolak, karena terjadi di tengah minimnya sentimen pemicu yang biasanya menyertai aksi jual besar-besaran.

Tekanan tersebut bukan sekadar penurunan harga biasa. Data pasar menunjukkan gelombang likuidasi posisi long berlangsung masif, dengan nilai tembus lebih dari US$200 juta dalam waktu singkat.

Kondisi ini menciptakan efek berantai: satu posisi terlikuidasi memicu likuidasi berikutnya, memperdalam tekanan jual secara agresif.

Baca Juga:Β Bitcoin Terjun Bebas Lima Hari Beruntun, Tekanan Jual Tak Terbendung

Situasi kian memburuk ketika stop loss berguguran dan margin call bermunculan hampir bersamaan.

Baca Juga  Michael Saylor Rem Pembelian Bitcoin di Tengah Badai Kripto

Fenomena ini lazim terjadi saat pasar terlalu padat oleh transaksi berleverage tinggi di satu arah, membuat harga sangat rentan terhadap guncangan kecil.

Menariknya, penurunan tajam tersebut terjadi bertepatan dengan awal aktivitas pasar Amerika Serikat.

Sekitar pukul 10.00 waktu New York, volatilitas kripto memang kerap meningkat, terutama ketika likuiditas masih terbatas dan aktivitas institusi mulai masuk pasar.

Ketika pasar tradisional mulai bergerak, investor besar umumnya melakukan penyesuaian portofolio dan lindung nilai.

Di pasar kripto, tekanan awal ini sering kali cukup untuk memicu aksi jual cepat sebelum sistem algoritmik dan mekanisme likuidasi mengambil alih sepenuhnya.

Meski tidak disertai peristiwa besar pada hari itu, faktor global tetap membayangi pergerakan pasar.

Salah satu sorotan datang dari Jepang. Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga dalam rapat kebijakan pertengahan Desember.

Secara historis, momen kebijakan moneter Jepang kerap memberi tekanan pada Bitcoin.

Baca Juga  Bitcoin Jatuh ke Rp1,11 Miliar, Analis Sebut Peluang & Risiko Masih Setara

Pada beberapa periode sebelumnya, kenaikan suku bunga di Negeri Sakura diikuti koreksi harga BTC yang signifikan dalam waktu relatif singkat.

Kondisi ini berkaitan erat dengan praktik yen carry trade, di mana investor memanfaatkan suku bunga rendah Jepang untuk membiayai investasi di aset berisiko, termasuk kripto.

Ketika biaya pinjaman meningkat, posisi tersebut dilepas, mendorong arus keluar dari pasar aset digital.

Kendati demikian, koreksi tajam ini belum serta-merta menandakan berakhirnya tren positif Bitcoin.

Karakter penurunannya dinilai lebih bersifat teknikal dan emosional, dipicu oleh forced selling akibat leverage, bukan karena melemahnya fondasi fundamental Bitcoin itu sendiri.

Di sisi lain, kondisi ekonomi global masih menunjukkan dinamika beragam.

Jepang menghadapi tantangan pertumbuhan, sementara pemerintah setempat menggulirkan stimulus besar.

Amerika Serikat dan China pun cenderung mengarah pada kebijakan yang lebih akomodatif, yang dalam jangka menengah berpotensi menopang aset berisiko.

Baca Juga  Suami Habisi Istri dan Bayi Sebelum Akhiri Hidupnya Sendiri di Pandeglang

Data perdagangan menunjukkan, pada Selasa (16/12/2025), pasar kripto secara umum bergerak di zona merah.

Baca Juga:Β Daftar 25 Penerima β€˜Uang Haram’ Kasus Chromebook Kemendikbud Rp1,9 Triliun

Bitcoin tercatat turun lebih dari 4 persen dalam 24 jam terakhir, dari level puncak mendekati US$90.000 ke kisaran US$85.000-an.

Dalam sepekan terakhir, tekanan juga masih terasa setelah BTC sempat menyentuh level di atas US$94.000.

Investor kini menanti data ekonomi Amerika Serikat, terutama laporan inflasi dan konsumsi, yang dinilai akan menjadi penentu arah pergerakan Bitcoin hingga akhir Desember.

Tekanan serupa turut menimpa sejumlah altcoin utama. Ethereum, BNB, hingga Solana kompak melemah, mencerminkan sentimen kehati-hatian yang masih menyelimuti pasar aset digital.

Bagi pelaku pasar, koreksi tajam ini lebih dipandang sebagai proses pembersihan leverage berlebihan.

Jika tekanan likuidasi mereda, banyak analis menilai peristiwa ini akan dikenang sebagai guncangan singkat yang menguji ketahanan pasar, bukan awal dari pelemahan berkepanjangan. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini