Jakarta, Sinata.id — Aktivitas seismik kembali menguji kewaspadaan warga di selatan Pulau Jawa. Dalam satu hari, dua gempa dengan karakter berbeda mengguncang wilayah Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta, memicu kekhawatiran sekaligus sorotan para ahli terhadap dinamika lempeng di zona tektonik aktif.
Gempa pertama terjadi pada Selasa pagi (27/1/2026) sekitar pukul 08.20 WIB dengan kekuatan magnitudo 5,7. Pusat guncangan berada di laut, sekitar 24 kilometer tenggara Pacitan, Jawa Timur, pada kedalaman 122 kilometer. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 13.15 WIB, gempa susulan terjadi di daratan timur laut Bantul, DIY, dengan kekuatan magnitudo 4,4 dan tergolong dangkal, sehingga getarannya terasa lebih tegas oleh warga.
Pakar gempa dari Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Gayatri Indah Marliyani, menjelaskan bahwa gempa Pacitan termasuk gempa intraslab—gempa yang bersumber dari bagian dalam lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua.
“Dorongan yang terus terjadi pada lempeng menyebabkan deformasi. Ketika bentuk dan posisi lempeng berubah, energi dilepaskan dan terjadilah gempa,” jelas Gayatri, menerangkan mekanisme di balik peristiwa tersebut, dikutip Rabu (28/1/2026).
Perbedaan lokasi dan karakter sumber gempa membuat efek yang dirasakan masyarakat tidak sama. Gempa pagi hari cenderung dirasakan sebagai gerakan mengayun, sementara guncangan siang hari terasa seperti sentakan.
“Perbedaan ini dipengaruhi posisi sumber gempa. Magnitudo yang lebih besar dan pergerakan vertikal membuat gelombang menyebar lebih luas,” ungkapnya.
Untuk gempa di DIY, Gayatri menyebut sumbernya berada di zona sesar aktif, yakni Sesar Opak. Meski pusatnya berbeda, ia tidak menutup kemungkinan adanya transfer tekanan dari gempa pertama yang membuat sistem sesar menjadi tidak stabil.
“Tekanan tersebut dapat memicu pergerakan berikutnya, sehingga gempa kedua terjadi,” katanya.
Meski terjadi beruntun, Gayatri memastikan kedua gempa tidak berpotensi tsunami dan kemungkinan gempa susulan kecil, mengingat magnitudo yang tidak terlalu besar.
“Tidak perlu panik. Potensi gempa lanjutan rendah,” ujarnya menenangkan.
Namun, ia menegaskan bahwa kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa selatan Jawa berada di kawasan tektonik aktif. Kesiapsiagaan publik—mulai dari pemahaman jalur evakuasi hingga respons cepat saat guncangan—tetap menjadi kunci.
“Waspada itu perlu. Kita hidup di wilayah aktif, jadi kesiapan menghadapi gempa harus selalu dijaga,” pungkasnya. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini