Oleh: Kolom Rohani
Dalam perjalanan iman, manusia kerap menyadari betapa rapuh dan lemahnya dirinya. Keterbatasan, kegagalan, dan pergumulan hidup sering menjadi bayang-bayang yang menggoyahkan keyakinan.
Namun, di tengah semua itu, Firman Tuhan menegaskan satu kebenaran penting: kita dipilih bukan karena kesempurnaan, melainkan oleh kasih karunia Allah.
Yesus Kristus memanggil manusia apa adanya. Ia tidak menuntut para pengikut-Nya menjadi pribadi tanpa cacat, tetapi menghendaki kesetiaan dan komitmen untuk tetap berjalan bersama-Nya. Panggilan itu bukan hanya untuk menerima keselamatan, melainkan juga untuk menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia yang penuh tantangan.
Pertanyaan Yesus kepada kedua belas murid-Nya dalam Yohanes 6:67, βApakah kamu tidak mau pergi juga?β, merupakan pertanyaan yang menembus batas waktu dan tetap relevan bagi setiap orang percaya hingga hari ini. Di tengah kekecewaan, tekanan hidup, dan godaan dunia, iman sering diuji: bertahan atau pergi.
Baca juga:Menghadapi Fitnah dan Tantangan dengan Iman: Belajar Tenang dan Dewasa Bersama Kristus
Jawaban Simon Petrus mencerminkan pengakuan iman yang dalam dan jujur:
βTuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal.β
Petrus menyadari bahwa hanya di dalam Kristus terdapat sumber kehidupan sejati. Iman bukan sekadar perasaan, tetapi sebuah keputusan untuk tetap percaya, meski tidak selalu memahami jalan Tuhan sepenuhnya.
Namun, Firman Tuhan juga mengingatkan bahwa berada dekat dengan Yesus secara lahiriah tidak selalu menjamin kesetiaan batiniah.
Yesus menegaskan bahwa Ia sendiri memilih kedua belas murid, tetapi di antara mereka ada Yudas Iskariot yang akhirnya mengkhianati-Nya. Hal ini menjadi peringatan bahwa iman harus dijaga dengan kerendahan hati dan kesungguhan hati.
Kesetiaan bukanlah soal tidak pernah jatuh, melainkan kesediaan untuk tetap berpaut kepada Tuhan ketika iman diguncang. Tuhan melihat hati, dan Ia tetap setia kepada mereka yang mau terus kembali dan bersandar kepada-Nya.
Baca juga:Reformasi Dimulai dari Rumah: Keberanian Gideon Membangun Terang di Tengah Ketakutan
Iman sejati diuji bukan pada saat keadaan mudah, melainkan ketika kita dihadapkan pada pilihan: bertahan atau meninggalkan. Kiranya setiap orang percaya dapat berkata seperti Petrus, bahwa hanya Yesuslah tujuan hidup kita, sumber pengharapan, dan pemilik perkataan hidup yang kekal.
Dalam kelemahan kita, kasih dan pilihan Tuhan tetap menjadi dasar kekuatan yang tak tergoyahkan.
Tuhan Yesus memberkati.Β (A27)
Β










Jadilah yang pertama berkomentar di sini