Sinata.id – Teror yang kembali dialami Sherly Annavita Rahmi ternyata bukan peristiwa pertama. Jauh sebelum sorotan publik tertuju pada kritiknya soal penanganan bencana Sumatera, influencer Sherly Annavita pernah diteror setelah secara terbuka mengkritik wacana pemindahan ibu kota negara pada 2019 lalu.
Pengalaman itu kembali diungkap Sherly di tengah gelombang intimidasi terbaru yang kini menimpanya.
Menurut pengakuannya, pola teror yang ia hadapi saat ini memiliki kemiripan mencolok dengan kejadian beberapa tahun silam—bermula dari serangan opini di ruang digital, lalu berlanjut ke tekanan personal.
Baca Juga: Sherly Annavita Dibungkam Teror dan Telur Busuk
Kritik Kebijakan, Teror Menyusul
Pada 2019, Sherly Annavita dikenal sebagai salah satu suara muda yang lantang mempertanyakan urgensi pemindahan ibu kota negara.
Kritik tersebut ia sampaikan dalam berbagai forum diskusi publik dan program televisi nasional.
Saat itu, ia menilai kebijakan tersebut perlu dikaji lebih dalam, terutama dari sisi keadilan sosial dan dampaknya terhadap daerah.
Namun, sikap kritis itu justru berujung pada teror.
Sherly mengungkap bahwa dirinya menerima serangan masif berupa ancaman, intimidasi digital, hingga upaya pembungkaman opini.
Meski tidak seluruhnya terekspos ke publik, pengalaman tersebut meninggalkan jejak psikologis yang kuat.
“Pola terornya mirip,” demikian ungkap Sherly, dikutip dari laman Instagram resminya, Selasa (30/12/2025).
Ia menilai, setiap kali kritik diarahkan pada isu kebijakan strategis negara, tekanan personal selalu mengikuti.
Baca Juga: Sherly Annavita Rahmi Diteror setelah Vokal Mengkritik Penanganan Bencana Sumatera
Pola Lama Terulang
Kini, setelah Sherly Annavita kembali bersuara soal penanganan bencana ekologis di Sumatera dan Aceh, sejarah itu seolah berulang.
Teror kembali muncul, kali ini dengan eskalasi yang lebih nyata: vandalisme terhadap kendaraan, pelemparan telur busuk ke rumah, hingga pengiriman surat ancaman yang menyertakan data pribadi keluarga.
Sherly menilai, rentetan intimidasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari rekam jejak kritiknya di masa lalu.
Menurutnya, suara kritis yang datang dari perspektif daerah kerap dipandang sebagai gangguan, bukan sebagai masukan kebijakan.
Dari Ibu Kota hingga Bencana
Dalam dua peristiwa berbeda—kritik wacana pemindahan ibu kota negara dan kritik penanganan bencana—Sherly Annavita melihat benang merah yang sama.
Keduanya berangkat dari kepedulian terhadap dampak kebijakan terhadap masyarakat luas, namun berujung pada tekanan personal.
Sherly menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan tidak pernah ditujukan untuk menjatuhkan pihak tertentu.
Ia menyebut, posisinya sebagai warga negara memberi hak untuk bertanya, mengkritik, dan mengawasi kebijakan publik.
Namun, realitas yang dihadapi justru menunjukkan bahwa kritik masih sering dibalas dengan cara-cara intimidatif.
Tetap Bersikap Terbuka
Meski teror kembali menghampiri, Sherly Annavita Rahmi menyatakan tidak menyesali sikap kritisnya, baik pada 2019 maupun saat ini.
Ia menilai pengalaman diteror setelah mengkritik wacana pemindahan ibu kota negara menjadi pengingat bahwa ruang demokrasi masih rapuh.
Menurut Sherly, teror yang berulang justru mempertegas pentingnya perlindungan terhadap kebebasan berpendapat.
Ia berharap, pengalaman yang dialaminya tidak terulang pada warga lain yang berani menyuarakan kritik kebijakan publik.
“Bersuara bukan kejahatan,” tegasnya.
Bagi Sherly, kritik—baik tentang ibu kota negara maupun bencana Sumatera—adalah bentuk kepedulian, bukan ancaman. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini