Selain itu, BMKG mencatat nilai indeks NINO 3.4 pada dasarian II Mei 2026 mencapai 1,00.
Angka tersebut menunjukkan kondisi laut Pasifik tengah berada dalam fase hangat dan telah melampaui ambang netral selama empat dasarian berturut-turut.
BMKG memperkirakan peluang terjadinya El Nino lemah mencapai 100 persen, El Nino moderat 95 persen, dan El Nino kuat sekitar 60 persen.
Meski demikian, BMKG mengingatkan prediksi ENSO pada Mei 2026 umumnya hanya memiliki tingkat akurasi tinggi untuk tiga bulan ke depan sehingga perlu disikapi secara hati-hati.
Di sisi lain, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada dalam kondisi netral diprediksi mulai bergerak menuju fase positif pada periode Juli hingga November 2026.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi distribusi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Untuk periode dasarian III Mei 2026, curah hujan di Indonesia diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah dengan kisaran 0–150 milimeter per dasarian.
Wilayah yang diprediksi mengalami hujan kategori rendah atau di bawah 50 milimeter per dasarian meliputi Aceh, sebagian Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, sebagian Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung bagian timur, Jawa Barat bagian utara, sebagian Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Maluku, Papua, Papua Tengah, hingga Papua Selatan.
Meski begitu, BMKG memastikan belum ada wilayah di Indonesia yang diprediksi mengalami curah hujan ekstrem maupun kekeringan meteorologis dengan status awas pada periode tersebut.
BMKG pun mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim terkini guna mengantisipasi potensi dampak perubahan cuaca, terutama terhadap sektor pertanian, kebencanaan, dan pengelolaan sumber daya air. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini