Jakarta, Sinata.id – Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) tengah berada dalam situasi genting. Sepanjang tahun 2025, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus menggulung, mencatatkan angka yang mengkhawatirkan hingga melampaui ambang batas psikologis 1 juta orang.
Berdasarkan data terbaru dari firma konsultan Challenger, Gray & Christmas, total pengurangan karyawan dari Januari hingga November 2025 telah menyentuh angka 1,17 juta orang.
Angka ini melonjak tajam 54% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi rekor tertinggi sejak guncangan pandemi Covid-19 pada 2020 silam.
Faktor Pemicu: Dari AI hingga Perang Tarif
Bukan sekadar efisiensi biasa, ada tiga “predator” utama yang memangsa lapangan kerja di Negeri Paman Sam tahun ini:
- Revolusi AI: Kecerdasan buatan bukan lagi ancaman fiksi. Tercatat sebanyak 54.694 posisi dipangkas secara langsung karena adopsi AI di berbagai lini bisnis.
- Kebijakan Tarif: Tekanan pasar akibat kebijakan tarif mulai memakan korban, menyebabkan hampir 8.000 pekerja kehilangan mata pencaharian sepanjang 2025.
- Restrukturisasi Korporasi: Perubahan model bisnis menjadi alasan paling klise namun paling banyak memakan korban.
Sektor Telekomunikasi dan
Teknologi Paling Terpukul
Bulan November sendiri mencatatkan 71.321 PHK. Meski angka ini menurun dari rekor buruk di bulan Oktober, sektor-sektor raksasa tetap berdarah:
- Telekomunikasi: Menjadi kontributor terbesar di bulan November, dipicu oleh langkah raksasa Verizon yang merumahkan lebih dari 13.000 pegawainya.
- Teknologi: Masih terus “bersih-bersih” dengan 12.377 PHK di bulan November, naik 17% secara kumulatif dibandingkan tahun lalu.
”Sejak 2008, pengumuman PHK di atas 70.000 pada bulan November hanya terjadi dua kali: yakni pada 2022 dan tahun ini,” kata Andy Challenger, pakar ketenagakerjaan dari firma tersebut.
Paradoks Data: Klaim Pengangguran Justru Turun?
Menariknya, terdapat anomali antara rencana PHK korporasi dengan data resmi pemerintah. Departemen Ketenagakerjaan AS melaporkan klaim pengangguran mingguan justru turun ke angka 191.000—level terendah dalam tiga tahun.
Namun, para analis memperingatkan agar tidak terkecoh. Penurunan ini diduga kuat akibat faktor musiman, seperti libur Thanksgiving yang mengganggu pola pelaporan di negara bagian besar seperti Texas dan California, bukan mencerminkan kondisi lapangan kerja yang sebenarnya membaik.
Masa Depan yang Suram?
Sinyal bahaya kian nyata jika melihat serapan tenaga kerja yang lesu. Rencana perekrutan baru hingga November 2025 merosot 35% dibandingkan tahun lalu.
Dengan perusahaan yang lebih memilih berinvestasi pada teknologi ketimbang manusia, tahun 2025 menjadi pengingat keras bagi tenaga kerja global tentang betapa cepatnya lanskap ekonomi berubah. []









Jadilah yang pertama berkomentar di sini