Mbabane, Sinata.id – Presiden Taiwan, Lai Ching-te, mengumumkan dirinya telah tiba dengan selamat di Eswatini pada Minggu (3/5/2026).
Kunjungan ini menjadi sorotan internasional karena sebelumnya sempat tertunda akibat tekanan diplomatik dari China terhadap sejumlah negara Afrika.
Melalui akun media sosial X, Lai menyampaikan bahwa ia berhasil mendarat di Eswatini, satu-satunya negara di Afrika yang masih menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan.
Kunjungan ini dinilai sebagai langkah strategis di tengah tekanan politik yang dihadapi Lai di dalam negeri, termasuk dinamika parlemen yang dikuasai oposisi dari Partai Kuomintang.
Sempat Terkendala Izin Penerbangan
Awalnya, kunjungan Lai dijadwalkan berlangsung pada 22 April 2026. Namun, rencana tersebut sempat terganggu setelah sejumlah negara seperti Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar mencabut izin melintas bagi pesawat yang ditumpanginya.
Taipei menilai keputusan tersebut tidak lepas dari tekanan China yang berupaya membatasi ruang diplomasi Taiwan di tingkat global.
Dukungan Amerika Serikat
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyatakan dukungannya terhadap kunjungan kenegaraan Lai ke Eswatini. Washington menegaskan bahwa Taiwan merupakan mitra internasional yang memiliki kontribusi signifikan.
“Taiwan adalah mitra tepercaya dan mumpuni bagi Amerika Serikat dan banyak negara lainnya,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS.
Pihak AS juga menilai perjalanan tersebut sebagai aktivitas diplomatik yang wajar dan tidak seharusnya dipolitisasi.
Reaksi Keras China
Di sisi lain, pemerintah China memberikan reaksi keras terhadap kunjungan tersebut. Beijing menilai langkah Lai sebagai pelanggaran terhadap prinsip “satu China” dan ancaman terhadap stabilitas hubungan internasional.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi bahkan menyampaikan peringatan kepada pihak AS terkait sensitivitas isu Taiwan.
Kantor Urusan Taiwan China juga melontarkan kritik keras terhadap Lai, menyebut kunjungannya sebagai tindakan provokatif.
Pernyataan Tegas Taiwan
Menanggapi tekanan tersebut, Lai Ching-te menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka sendiri.
“Taiwan tidak akan pernah terhalang oleh tekanan eksternal dan akan terus berinteraksi dengan dunia,” tegasnya.
Kunjungan ini juga bertepatan dengan peringatan 40 tahun takhta Raja Mswati III. Dalam kesempatan tersebut, Lai mengundang pemimpin Eswatini untuk melakukan kunjungan balasan ke Taiwan.
Eswatini sendiri merupakan salah satu dari sedikit negara yang masih mempertahankan hubungan diplomatik dengan Taiwan, di tengah meningkatnya pengaruh China di Afrika.
Dinamika Geopolitik Global
Kunjungan Lai Ching-te ke Eswatini mencerminkan meningkatnya tensi geopolitik antara Taiwan dan China. Di satu sisi, Taiwan berupaya memperluas hubungan internasionalnya, sementara China terus menekan negara-negara lain untuk tidak menjalin hubungan resmi dengan Taipei.
Meski menghadapi berbagai hambatan, langkah Lai menunjukkan upaya Taiwan untuk tetap eksis dalam panggung diplomasi global. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini