Jakarta, Sinata.id — Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh, menaruh perhatian serius terhadap dampak bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Sumatera Barat.
Ia menekankan, perbaikan infrastruktur dan pemulihan sektor pertanian harus ditempatkan sebagai fokus utama dalam upaya pemulihan nasional.
Rahmat mengungkapkan, bencana telah menyebabkan kerusakan besar, terutama pada fasilitas publik. Ratusan jembatan dan ruas jalan dilaporkan rusak, sementara sistem irigasi pertanian mengalami gangguan akibat longsor.
Tak hanya itu, ratusan ribu hektare lahan persawahan kini tertutup lumpur sehingga tidak dapat digarap secara optimal.
“Kerusakan ini bukan hanya soal fisik. Ketika sawah tertimbun lumpur, kehidupan petani ikut terancam,” ujar Rahmat, Selasa (6/1/2026).
Ia menilai, kondisi tersebut memerlukan respons cepat dan kebijakan yang berpihak pada petani. Pemerintah, kata Rahmat, perlu menyiapkan bantuan nyata, baik berupa subsidi pertanian maupun skema pekerjaan sementara bagi petani yang kehilangan sumber penghidupan.
Menurutnya, sawah memiliki nilai lebih dari sekadar lahan produksi. “Bagi para petani, sawah adalah penopang utama kehidupan keluarga. Melihat kondisinya saat ini tentu sangat memprihatinkan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Rahmat menyoroti besarnya dampak ekonomi akibat bencana. Oleh karena itu, ia mendorong agar program pemulihan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh aspek pemulihan ekonomi masyarakat, khususnya petani.
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah pusat yang telah menyiapkan anggaran penanganan bencana sebesar Rp60 triliun melalui Kementerian Keuangan.
Rahmat berharap dana tersebut dapat dialokasikan secara tepat sasaran untuk program-program yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat terdampak.
“Dengan dukungan anggaran dan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, kita optimistis Sumatera Barat dapat segera bangkit kembali. Semoga ikhtiar ini mendapat dukungan dan doa dari semua pihak,” pungkasnya. (*)
Sumber: Parlementaria









Jadilah yang pertama berkomentar di sini