Takengon, Sinata.id – Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah bersama sejumlah pihak terkait menyiapkan relokasi bagi 17 satuan pendidikan yang berada di kawasan rawan bencana.
Langkah ini diambil setelah hasil pendataan menunjukkan sejumlah sekolah mengalami kerusakan serius dan dinilai tidak lagi aman untuk digunakan dalam jangka panjang.
Salah satu sekolah yang menjadi perhatian adalah SD Negeri 10 Linge yang sebelumnya menjalankan kegiatan belajar mengajar di tenda darurat pascabencana.
Informasi tersebut disampaikan oleh tim gabungan yang terdiri dari Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB), Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Aceh, serta Dinas Pendidikan Aceh Tengah setelah melakukan peninjauan ke lokasi terdampak.
Sebagai langkah penanganan darurat, sebanyak 93 siswa SDN 10 Linge kini dipindahkan untuk belajar di ruang kelas milik SMPN 26 Takengon yang berada bersebelahan dengan sekolah tersebut. Pemanfaatan ruang kosong di SMPN 26 Takengon dilakukan untuk memastikan kegiatan belajar mengajar berlangsung dalam kondisi yang lebih aman dan nyaman.
Perwakilan Seknas SPAB, Jamjam Muzaki, mengatakan pemindahan siswa dari tenda darurat ke ruang kelas permanen merupakan langkah sementara hingga fasilitas pendidikan yang lebih layak tersedia.
“Kami mengarahkan agar siswa yang masih belajar di tenda darurat dapat memanfaatkan ruang kelas kosong yang tersedia sehingga proses belajar mengajar berlangsung lebih baik,” ujarnya.
Untuk solusi jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah bersama tim terkait telah menyepakati penyediaan lahan relokasi permanen seluas sekitar 1,5 hektare. Lahan tersebut direncanakan menjadi lokasi pembangunan kompleks baru bagi SDN 10 Linge dan SMPN 26 Takengon yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi sekolah saat ini.
Pemerintah daerah juga tengah mempersiapkan proses administrasi dan pembebasan lahan guna mempercepat realisasi pembangunan fasilitas pendidikan baru serta kawasan permukiman bagi masyarakat terdampak.
Dari 17 sekolah yang masuk dalam program relokasi, tiga sekolah telah terakomodasi dalam anggaran Rehabilitasi Vital (Revit) Tahap I TNI. Sementara sekolah lainnya akan diarahkan ke skema relokasi penuh dengan mempertimbangkan aspek keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik.
Sembari menunggu pembangunan sekolah permanen, Kemendikdasmen bekerja sama dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) akan membangun Ruang Kelas Darurat (RKD). Pembangunan dijadwalkan dimulai pada Sabtu (6/6/2026).
Sebanyak tiga ruang kelas darurat akan dibangun untuk SDN 10 Linge dan dua ruang kelas untuk SMPN 26 Takengon. Fasilitas tersebut akan ditempatkan di dekat kawasan hunian sementara warga agar mudah diakses oleh siswa.
Selain pembangunan sarana belajar sementara, pemerintah juga menyalurkan bantuan operasional untuk mendukung kegiatan pendidikan selama masa transisi. SDN 10 Linge dan SMPN 26 Takengon masing-masing menerima Bantuan Operasional Pembelajaran Darurat sebesar Rp25 juta.
Khusus SDN 10 Linge, Direktorat Sekolah Dasar juga menyalurkan bantuan tambahan senilai Rp30 juta melalui program Bantuan Operasional Bencana. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pembersihan lingkungan sekolah terdampak, penataan ruang belajar sementara, serta pengadaan kebutuhan pembelajaran.
Tim gabungan berharap proses relokasi sekolah tidak hanya menjadi upaya pemulihan pascabencana, tetapi juga menjadi bagian dari penataan layanan pendidikan yang lebih efektif dan sesuai dengan perkembangan kawasan permukiman baru masyarakat di Aceh Tengah. (SN24)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini