Jakarta, Sinata.id – Fenomena Hujan Meteor Lyrids kembali menghiasi langit pada April 2026. Peristiwa astronomi ini menjadi salah satu yang paling dinantikan oleh pecinta astronomi maupun masyarakat umum karena dapat disaksikan tanpa bantuan alat khusus seperti teleskop.
Hujan meteor ini terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan oleh Komet Thatcher (C/1861 G1). Saat partikel kecil tersebut memasuki atmosfer Bumi, mereka terbakar dan menghasilkan cahaya terang yang tampak seperti garis cahaya melintas di langit malam.
Nama “Lyrids” berasal dari rasi bintang Lyra, yaitu titik radian atau arah seolah-olah meteor berasal. Namun, meteor sebenarnya dapat terlihat di berbagai bagian langit, bukan hanya di sekitar rasi tersebut.
Puncak Hujan Meteor Lyrids 2026 diperkirakan terjadi pada Rabu, 22 April 2026. Pada periode ini, pengamat berpeluang melihat beberapa meteor per jam, tergantung kondisi langit dan lokasi pengamatan. Berdasarkan informasi dari laman astronomi In the Sky dan Space, aktivitas meteor biasanya meningkat sejak malam hingga menjelang fajar.
Untuk mendapatkan pengalaman pengamatan terbaik, disarankan mencari lokasi dengan minim polusi cahaya seperti area pedesaan, pegunungan, atau pantai. Hindari cahaya terang seperti ponsel atau lampu agar mata dapat beradaptasi dengan gelap selama 20–30 menit. Meteor juga bisa muncul dari berbagai arah sehingga pengamatan sebaiknya dilakukan dengan pandangan luas ke langit. Selain itu, kondisi cuaca cerah tanpa awan sangat menentukan keberhasilan melihat fenomena ini.
Hujan Meteor Lyrids juga dikenal sebagai salah satu hujan meteor tertua yang pernah tercatat dalam sejarah manusia, dengan catatan pengamatan yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Hal ini menjadikannya fenomena langit yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan ilmiah yang penting. (A07)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini