Greenland, Sinata.id – Para peneliti mengungkap terjadinya megatsunami setinggi sekitar 200 meter yang menghantam wilayah Greenland pada September 2023.
Peristiwa alam berskala besar ini baru teridentifikasi hampir satu tahun setelah kejadian, dan sempat membingungkan komunitas ilmiah dunia.
Megatsunami tersebut diduga dipicu oleh tanah longsor besar di kawasan Dickson Fjord, Greenland bagian timur. Longsor terjadi setelah sekitar 25 juta meter kubik batu dan es runtuh dari lereng setinggi 600 hingga 900 meter. Analisis citra satelit menunjukkan adanya empat longsoran baru yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
“Saat kami memulai penyelidikan, tidak seorang pun benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Satu-satunya petunjuk saat itu adalah adanya tanah longsor,” ujar Kristian Svennevig dari Survei Geologi Denmark dan Greenland, seperti dilansir Jumat (30/10/2026).
Baca juga:PM Greenland Tegaskan Kedaulatan Tak Bisa Dinegosiasikan di Tengah Isu AS
Ia menambahkan, misteri tersebut akhirnya terpecahkan melalui kolaborasi ilmiah lintas disiplin dan lintas negara.
Getaran Bumi Selama Sembilan Hari
Dalam publikasi ilmiah yang disusun tim Svennevig, disebutkan bahwa megatsunami ini tidak hanya terjadi sekali, melainkan memicu gerakan gelombang bolak-balik selama lebih dari sepekan. Fenomena ini bergerak tegak lurus terhadap arah gelombang awal tsunami.
Keanehan peristiwa ini pertama kali terdeteksi melalui sinyal seismik tidak biasa yang tercatat oleh instrumen pemantau gempa global. Getaran tersebut berlangsung selama sembilan hari berturut-turut, jauh lebih lama dibandingkan gempa pada umumnya.
Stephen Hicks dari University College London mengungkapkan bahwa awalnya ia mengira peralatan seismik mengalami gangguan teknis.
“Sinyal gempa biasanya hanya berlangsung beberapa menit. Namun, kali ini sinyal bertahan hingga sembilan hari. Hal seperti ini belum pernah kami temui sebelumnya,” jelasnya dalam laporan penelitian.
Baca juga:Soal Greenland, Anggota Parlemen AS Berseberangan dengan Trump
Kolaborasi 68 Ilmuwan Dunia
Penelusuran lebih lanjut mengarah ke kawasan Greenland timur. Sebanyak 68 ilmuwan dari 15 negara terlibat dalam penelitian mendalam dengan menggabungkan data seismik, citra satelit, observasi lapangan, serta simulasi gelombang.
Hasil penelitian mengungkap bahwa sebuah gunung setinggi hampir 1.200 meter di tepi Dickson Fjord kehilangan penopang alaminya akibat mencairnya gletser. Kondisi ini menyebabkan ribuan ton batu dan es runtuh ke dalam perairan pada 16 September 2023.
Benturan tersebut memicu gelombang tsunami raksasa. Namun, struktur fjord yang sempit dan berliku membuat air terjebak dan berosilasi bolak-balik, menciptakan fenomena yang dikenal sebagai seiche.
Seiche merupakan gerakan berirama gelombang di perairan tertutup, mirip air yang bergoyang di dalam bak mandi. Meski bukan fenomena baru, durasi seiche yang mencapai sembilan hari dinilai sangat ekstrem.
“Jika setahun lalu saya mengatakan seiche dapat bertahan hingga sembilan hari, banyak orang pasti menganggapnya mustahil,” kata Svennevig.
Baca juga:Lawan Ambisi Trump, Tentara Negara-negara Eropa Kepung Greenland
Dampak Perubahan Iklim
Para peneliti juga mengaitkan peristiwa ini dengan perubahan iklim global. Perbedaan suhu ekstrem antara musim panas dan musim dingin, mencairnya lapisan es, berkurangnya penopang gletser, serta perubahan pola presipitasi disebut sebagai faktor utama pemicu longsor.
Insiden ini menjadi pengingat kuat akan dampak nyata pemanasan global terhadap stabilitas alam. Greenland, yang dikenal sebagai pulau es dan kaya mineral strategis, kini menjadi simbol bagaimana perubahan iklim dapat memicu bencana besar yang melampaui perkiraan manusia. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini