Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 30 April 2026 |18:09 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15400 (AGM) 15450 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15205 15450 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15112 (PRISCOLIN) 14995 (MM) 15000 (AGM) 15250 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14787 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14762 14490 (MNA) 14500 (PBI) 15000 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14947 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Pasar cenderung melemah pada beberapa lokasi LOCO
  • Persaingan harga cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat beberapa grade tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Ekonomi & Bisnis

IHSG Anjlok hingga 7,35%, Menkeu Purbaya Ungkap Peran MSCI dan Praktik Goreng Saham

ihsg anjlok hingga 7,35%, menkeu purbaya ungkap peran msci dan praktik goreng saham
Pergerakan indeks harga saham gabungan IHSG di Kantor BEI Jakarta. (cnbc)

Jakarta, Sinata.id — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan biang kerok bursa saham Indonesia babak belur pada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026).

Ia menyinggung adanya praktik yang kurang transparan di bursa hingga masalah tukang “goreng-goreng” saham.

Advertisement

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun ke zona merah dengan penurunan hingga 7,35% ke level 8.320 pada penutupan perdagangan hari ini. Bahkan, IHSG sempat mengalami trading halt karena anjlok terlalu dalam hingga 8%.

Purbaya menilai sentimen pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait bursa saham Indonesia menjadi biang kerok terjadinya panic selling di pasar saham. Hal itu, menurutnya, membuktikan bahwa bursa selama ini masih kurang transparan dan praktik goreng saham masih menjamur.

Baca juga:Rupiah Menguat di Tengah Tekanan IHSG, Dolar AS Terpuruk ke Level Terendah

“Ya menurut saya IHSG kan jatuh karena berita MSCI yang menganggap kita kurang transparan dan banyak goreng-gorengan saham segala macam kan. Persyaratan mereka ya itu manajemen bersih dan free float-nya berapa persen,” ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (28/1/2026).

Di sisi lain, ia menilai reaksi pasar terhadap pengumuman MSCI tersebut berlebihan.
“Ini saya pikir reaksi yang berlebihan, karena kan ini baru laporan pertama kan. Masih ada waktu eksekusi sampai bulan Mei kan,” ujarnya menjelaskan.

Purbaya mengaku pihaknya telah berbicara dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator perdagangan saham. Ia menjamin perbaikan akan dilakukan dan pasar akan kembali pulih.

Baca Juga  Satgas PASTI Hentikan 953 Entitas Ilegal Q1 2026, Pinjol Ilegal Masih Dominan

“Jadi, ini hanya shock sesaat. Jadi, pasti perusahaan-perusahaan itu akan bisa menyesuaikan MSCI dan bisa masuk ke indeksnya MSCI maupun saham yang boleh diinvestasi oleh perusahaan-perusahaan asing global,” tegasnya.

Lebih jauh, Purbaya menekankan bahwa hal terpenting saat ini adalah menjaga fundamental ekonomi Indonesia agar menjadi lebih baik. Menurutnya, hal tersebut jauh lebih penting untuk mengembalikan kepercayaan pasar domestik.

Baca juga:Awal Tahun Langsung Panas, IHSG Pecah Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

“Kalau untuk saya, yang penting kita perbaiki ekonominya, karena ekonominya betul-betul membaik. Saya nggak main-main,” kata Purbaya.

Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengatakan peringkat Indonesia dalam klasifikasi pasar saham global berisiko turun dari pasar berkembang (emerging markets) menjadi pasar perbatasan (frontier markets).

Penurunan tersebut dapat terjadi apabila data yang diminta MSCI Inc terkait transparansi saham Indonesia tidak terpenuhi hingga Mei 2025.

“Kalau data yang mereka [MSCI Inc] harapkan itu tidak terpenuhi sampai dengan transparansi, ya mereka kan transparansi dipenuhi sampai dengan bulan Mei, mereka akan menurunkan peringkat kita dari emerging market menjadi frontier market,” urainya saat konferensi pers di kantor BEI, Jakarta Pusat.

“Artinya, kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Karena sekarang kan [Indonesia] di emerging market, sama dengan Malaysia,” sambungnya.

Iman mengaku berterima kasih atas perhatian dari MSCI Inc terkait transparansi saham pre-vote di bawah lima persen (kepemilikan saham kecil, di bawah lima persen).

Baca Juga  OJK Turun Tangan, BNI Diminta Tuntaskan Dugaan Penyimpangan Dana Nasabah KCP Aek Nabara

Mengingat, kepemilikan saham di bawah lima persen kerap dianggap memiliki data yang tidak transparan, tidak jelas pemilik akhirnya (beneficial owner), serta mekanisme pelaporan yang berbeda-beda.

Baca juga:IHSG Cetak Rekor Baru, Indeks Sentuh Level Tertingginya Sepanjang Sejarah

“Nah, ini tadi hasil kami diskusi juga, kita sedang mempersiapkan dan melihat bagaimana kita bisa memenuhi apa yang required, apa yang dibutuhkan oleh MSCI,” tutur Iman.

Dalam kesempatan tersebut, ia meminta investor agar tidak panik hingga menjual kepemilikan saham masing-masing. Iman meyakini peningkatan transparansi merupakan langkah positif, baik bagi MSCI Inc maupun pasar modal Indonesia.

“Jadi, kita bicara ini adalah transparansi data yang baik juga buat industri pasar modal kita. Jadi, kita bicara bukan karena ini permintaan MSCI kita akan penuhi atau tidak, tapi kami melihat ini ada positive side,” sebutnya.

Sebagai informasi, berikut klasifikasi pasar saham global versi MSCI Inc:

Developed Markets

Amerika: Kanada, dan Amerika Serikat

EMEA (Eropa, Timur Tengah, dan Afrika): Austria, Belgia, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Irlandia, Israel, Italia, Belanda, Norwegia, Portugal, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris

APAC (Asia Pasifik): Australia, Hong Kong, Jepang, Selandia Baru, dan Singapura

Emerging Markets

Amerika: Brasil, Chili, Kolombia, Meksiko, dan Peru

EMEA: Republik Ceko, Mesir, Yunani, Hungaria, Kuwait, Polandia, Qatar, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, dan UEA

APAC: Cina, India, Indonesia, Korea, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Thailand

Baca Juga  PINTAR BI Buka Periode II Tukar Uang Baru Lebaran Luar Jawa, Kuota Cepat Habis

Frontier Markets

Amerika: –

EMEA: Bahrain, Benin, Burkina Faso, Kroasia, Estonia, Guinea Bissau, Islandia, Pantai Gading, Yordania, Kazakhstan, Kenya, Latvia, Lithuania, Mali, Mauritius, Maroko, Nigeria, Oman, Rumania, Senegal, Serbia, Slovenia, Togo, dan Tunisia

APAC: Bangladesh, Pakistan, Sri Lanka, dan Vietnam

Advanced Frontier Markets

Amerika: –

EMEA: Estonia, Latvia, Lithuania, Rumania, dan Slovenia

APAC: –

Standalone Markets

Amerika: Argentina, Jamaika, Panama, Trinidad dan Tobago

EMEA: Bosnia dan Herzegovina, Bulgaria, Lebanon, Malta, Nigeria, Palestina, Ukraina, dan Zimbabwe

APAC: –

Baca juga:IHSG Ditutup Melemah, Panggung Saham Justru Dikuasai UNVR hingga DCII

Purbaya optimistis IHSG segera rebound meskipun ditutup jeblok dan sempat mengalami trading halt atau pembekuan perdagangan sementara pada Rabu (28/1/2026).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup turun 659,67 poin atau 7,35% ke level 8.320,55. IHSG bergerak di rentang 8.187 hingga 8.596,17. Sebanyak 753 saham melemah, 37 saham menguat, dan 16 saham stagnan.

Sepanjang perdagangan, IHSG sempat anjlok hingga 8% sehingga perdagangan saham dihentikan sementara. Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menjelaskan pembekuan perdagangan efektif dilakukan pada pukul 13.43.13 waktu JATS.

Saat itu, indeks komposit berada di level 8.261,78 atau turun 8%. Berdasarkan prosedur yang berlaku, aktivitas transaksi di pasar saham dibekukan selama 30 menit dan dilanjutkan kembali pada pukul 14.13.13 waktu JATS tanpa perubahan jadwal penutupan perdagangan. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini