Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
News

Bukan Kali Pertama, Sherly Annavita Pernah Diteror Usai Kritik Ibu Kota Negara

bukan kali pertama, sherly annavita pernah diteror usai mengkritik wacana pemindahan ibu kota negara pada 2019. kini teror itu terulang.
Bukan kali pertama, Sherly Annavita mengaku pernah diteror usai mengkritik wacana pemindahan ibu kota negara pada 2019. Kini teror itu terulang. (Ist)

Sinata.idTeror yang kembali dialami Sherly Annavita Rahmi ternyata bukan peristiwa pertama. Jauh sebelum sorotan publik tertuju pada kritiknya soal penanganan bencana Sumatera, influencer Sherly Annavita pernah diteror setelah secara terbuka mengkritik wacana pemindahan ibu kota negara pada 2019 lalu.

Pengalaman itu kembali diungkap Sherly di tengah gelombang intimidasi terbaru yang kini menimpanya.

Advertisement

Menurut pengakuannya, pola teror yang ia hadapi saat ini memiliki kemiripan mencolok dengan kejadian beberapa tahun silam—bermula dari serangan opini di ruang digital, lalu berlanjut ke tekanan personal.

Baca Juga: Sherly Annavita Dibungkam Teror dan Telur Busuk

Kritik Kebijakan, Teror Menyusul

Pada 2019, Sherly Annavita dikenal sebagai salah satu suara muda yang lantang mempertanyakan urgensi pemindahan ibu kota negara.

Kritik tersebut ia sampaikan dalam berbagai forum diskusi publik dan program televisi nasional.

Baca Juga  Blok Barat Pasar Pusat Kota Payakumbuh Ludes Dilalap Api

Saat itu, ia menilai kebijakan tersebut perlu dikaji lebih dalam, terutama dari sisi keadilan sosial dan dampaknya terhadap daerah.

Namun, sikap kritis itu justru berujung pada teror.

Sherly mengungkap bahwa dirinya menerima serangan masif berupa ancaman, intimidasi digital, hingga upaya pembungkaman opini.

Meski tidak seluruhnya terekspos ke publik, pengalaman tersebut meninggalkan jejak psikologis yang kuat.

“Pola terornya mirip,” demikian ungkap Sherly, dikutip dari laman Instagram resminya, Selasa (30/12/2025).

Ia menilai, setiap kali kritik diarahkan pada isu kebijakan strategis negara, tekanan personal selalu mengikuti.

Baca Juga: Sherly Annavita Rahmi Diteror setelah Vokal Mengkritik Penanganan Bencana Sumatera

Pola Lama Terulang

Kini, setelah Sherly Annavita kembali bersuara soal penanganan bencana ekologis di Sumatera dan Aceh, sejarah itu seolah berulang.

Baca Juga  Sherly Annavita Dibungkam Teror dan Telur Busuk

Teror kembali muncul, kali ini dengan eskalasi yang lebih nyata: vandalisme terhadap kendaraan, pelemparan telur busuk ke rumah, hingga pengiriman surat ancaman yang menyertakan data pribadi keluarga.

Sherly menilai, rentetan intimidasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari rekam jejak kritiknya di masa lalu.

Menurutnya, suara kritis yang datang dari perspektif daerah kerap dipandang sebagai gangguan, bukan sebagai masukan kebijakan.

Dari Ibu Kota hingga Bencana

Dalam dua peristiwa berbeda—kritik wacana pemindahan ibu kota negara dan kritik penanganan bencana—Sherly Annavita melihat benang merah yang sama.

Keduanya berangkat dari kepedulian terhadap dampak kebijakan terhadap masyarakat luas, namun berujung pada tekanan personal.

Sherly menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan tidak pernah ditujukan untuk menjatuhkan pihak tertentu.

Baca Juga  Mobil Jurnalis Aceh Dirusak OTK di Subulussalam

Ia menyebut, posisinya sebagai warga negara memberi hak untuk bertanya, mengkritik, dan mengawasi kebijakan publik.

Namun, realitas yang dihadapi justru menunjukkan bahwa kritik masih sering dibalas dengan cara-cara intimidatif.

Tetap Bersikap Terbuka

Meski teror kembali menghampiri, Sherly Annavita Rahmi menyatakan tidak menyesali sikap kritisnya, baik pada 2019 maupun saat ini.

Ia menilai pengalaman diteror setelah mengkritik wacana pemindahan ibu kota negara menjadi pengingat bahwa ruang demokrasi masih rapuh.

Menurut Sherly, teror yang berulang justru mempertegas pentingnya perlindungan terhadap kebebasan berpendapat.

Ia berharap, pengalaman yang dialaminya tidak terulang pada warga lain yang berani menyuarakan kritik kebijakan publik.

“Bersuara bukan kejahatan,” tegasnya.

Bagi Sherly, kritik—baik tentang ibu kota negara maupun bencana Sumatera—adalah bentuk kepedulian, bukan ancaman. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini