Sinata.id β Pasar kripto dikejutkan oleh kejatuhan mendadak harga Bitcoin pada pertengahan Desember. Tanpa didahului kabar negatif besar, nilai aset digital terbesar di dunia itu anjlok tajam hanya dalam hitungan menit, memicu kepanikan di kalangan pelaku pasar global.
Dalam kurun waktu kurang dari satu jam pada Senin (16/12/2025), harga Bitcoin merosot lebih dari US$3.000 dan sempat menyentuh kisaran US$86.000.
Kecepatan koreksi ini membuat pasar bergejolak, karena terjadi di tengah minimnya sentimen pemicu yang biasanya menyertai aksi jual besar-besaran.
Tekanan tersebut bukan sekadar penurunan harga biasa. Data pasar menunjukkan gelombang likuidasi posisi long berlangsung masif, dengan nilai tembus lebih dari US$200 juta dalam waktu singkat.
Kondisi ini menciptakan efek berantai: satu posisi terlikuidasi memicu likuidasi berikutnya, memperdalam tekanan jual secara agresif.
Baca Juga:Β Bitcoin Terjun Bebas Lima Hari Beruntun, Tekanan Jual Tak Terbendung
Situasi kian memburuk ketika stop loss berguguran dan margin call bermunculan hampir bersamaan.
Fenomena ini lazim terjadi saat pasar terlalu padat oleh transaksi berleverage tinggi di satu arah, membuat harga sangat rentan terhadap guncangan kecil.
Menariknya, penurunan tajam tersebut terjadi bertepatan dengan awal aktivitas pasar Amerika Serikat.
Sekitar pukul 10.00 waktu New York, volatilitas kripto memang kerap meningkat, terutama ketika likuiditas masih terbatas dan aktivitas institusi mulai masuk pasar.
Ketika pasar tradisional mulai bergerak, investor besar umumnya melakukan penyesuaian portofolio dan lindung nilai.
Di pasar kripto, tekanan awal ini sering kali cukup untuk memicu aksi jual cepat sebelum sistem algoritmik dan mekanisme likuidasi mengambil alih sepenuhnya.
Meski tidak disertai peristiwa besar pada hari itu, faktor global tetap membayangi pergerakan pasar.
Salah satu sorotan datang dari Jepang. Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga dalam rapat kebijakan pertengahan Desember.
Secara historis, momen kebijakan moneter Jepang kerap memberi tekanan pada Bitcoin.
Pada beberapa periode sebelumnya, kenaikan suku bunga di Negeri Sakura diikuti koreksi harga BTC yang signifikan dalam waktu relatif singkat.
Kondisi ini berkaitan erat dengan praktik yen carry trade, di mana investor memanfaatkan suku bunga rendah Jepang untuk membiayai investasi di aset berisiko, termasuk kripto.
Ketika biaya pinjaman meningkat, posisi tersebut dilepas, mendorong arus keluar dari pasar aset digital.
Kendati demikian, koreksi tajam ini belum serta-merta menandakan berakhirnya tren positif Bitcoin.
Karakter penurunannya dinilai lebih bersifat teknikal dan emosional, dipicu oleh forced selling akibat leverage, bukan karena melemahnya fondasi fundamental Bitcoin itu sendiri.
Di sisi lain, kondisi ekonomi global masih menunjukkan dinamika beragam.
Jepang menghadapi tantangan pertumbuhan, sementara pemerintah setempat menggulirkan stimulus besar.
Amerika Serikat dan China pun cenderung mengarah pada kebijakan yang lebih akomodatif, yang dalam jangka menengah berpotensi menopang aset berisiko.
Data perdagangan menunjukkan, pada Selasa (16/12/2025), pasar kripto secara umum bergerak di zona merah.
Baca Juga:Β Daftar 25 Penerima βUang Haramβ Kasus Chromebook Kemendikbud Rp1,9 Triliun
Bitcoin tercatat turun lebih dari 4 persen dalam 24 jam terakhir, dari level puncak mendekati US$90.000 ke kisaran US$85.000-an.
Dalam sepekan terakhir, tekanan juga masih terasa setelah BTC sempat menyentuh level di atas US$94.000.
Investor kini menanti data ekonomi Amerika Serikat, terutama laporan inflasi dan konsumsi, yang dinilai akan menjadi penentu arah pergerakan Bitcoin hingga akhir Desember.
Tekanan serupa turut menimpa sejumlah altcoin utama. Ethereum, BNB, hingga Solana kompak melemah, mencerminkan sentimen kehati-hatian yang masih menyelimuti pasar aset digital.
Bagi pelaku pasar, koreksi tajam ini lebih dipandang sebagai proses pembersihan leverage berlebihan.
Jika tekanan likuidasi mereda, banyak analis menilai peristiwa ini akan dikenang sebagai guncangan singkat yang menguji ketahanan pasar, bukan awal dari pelemahan berkepanjangan. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini