Info Market CPO
πŸ—“ Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K β€’ 0.3K β€’ 0.2K β€’DMI β€’ FOB TDUKU β€’ LOCO PARINDU β€’ LOCO KEMBAYAN β€’ LOCO NGABANG β€’ LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K Β· DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K Β· DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K Β· FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K Β· LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K Β· LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K Β· LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K Β· LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
πŸ‘₯Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
News

Utang Luar Negeri RI Rp7.160 Triliun dengan Pertumbuhan Melambat

bank indonesia melaporkan posisi utang luar negeri indonesia mencapai us$431,9 miliar atau rp7.160,3 triliun pada agustus 2025.
Bank Indonesia melaporkan posisi utang luar negeri Indonesia mencapai US$431,9 miliar atau Rp7.160,3 triliun pada Agustus 2025. (Ilustrasi)

Sinata.id – Bank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia pada Agustus 2025 mencapai jumlah fantastis, yakni US$431,9 miliar atau setara dengan Rp7.160,3 triliun. Angka ini naik 2% secara tahunan, meskipun pertumbuhannya melambat dibanding Juli yang mencapai 4,2%.

Rasio utang ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga naik sedikit menjadi 30% pada Agustus, dari posisi 29,9% pada bulan sebelumnya. Menariknya, mayoritas utang ini merupakan utang jangka panjang, yang mengambil porsi 85,9% dari total utang luar negeri.

Advertisement

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perlambatan pertumbuhan utang luar negeri ini dipicu oleh menurunnya laju utang sektor publik dan kontraksi di sektor swasta.

Baca Juga  Penangkaran Burung Walet di Kelurahan Melayu Membuat Warga Siantar Resah

β€œUtang luar negeri sektor publik tumbuh 6,7% menjadi US$213,9 miliar, namun pertumbuhannya menurun dari 9,0% pada Juli,” kata Ramdan, Kamis (16/10/2025).

Perlambatan ini karena aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) yang melambat, di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Meski begitu, BI menegaskan pengelolaan utang negara dilakukan dengan sangat hati-hati dan akuntabel, fokus untuk membiayai program-program prioritas yang memperkuat ekonomi nasional.

Baca Juga:Β IHSG Menguat Tajam 0,93% di Sesi I, Didukung Saham DSSA dan BBRI

Dari sisi sektor, utang pemerintah terutama dialokasikan pada bidang jasa kesehatan dan sosial (23,4%), pendidikan (17,2%), administrasi pemerintah, pertahanan, serta jaminan sosial wajib (15,7%). Konstruksi, transportasi, hingga jasa keuangan juga menjadi penerima pinjaman signifikan. Menariknya, hampir semua utang pemerintah adalah jangka panjang, mencapai 99,9%.

Baca Juga  Waspada! Stres Kronis Picu Lonjakan Gula Darah Diam-diam

Sementara itu, utang luar negeri swasta justru mengalami kontraksi sebesar 1,1% menjadi US$194,2 miliar, lebih dalam daripada bulan sebelumnya yang masih terkontraksi 0,2%. Penyebabnya adalah penurunan utang di luar lembaga keuangan sebesar 1,6%, meskipun utang lembaga keuangan masih naik tipis 0,8%.

Utang swasta ini tersebar terutama di sektor industri pengolahan, jasa keuangan, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor ini menyumbang 81,2% dari total utang luar negeri swasta. [zainal/a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini