Tapanuli, Sinata.id– Sudah sepekan sejak bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Tapanuli, Sumatera Utara, krisis bahan bakar minyak masih terjadi. Di kawasan tidak terdampak bencana pun, kendaraan mengantre berhari-hari untuk mendapat BBM nonsubsidi. BBM bersubsidi sama sekali tidak ada. Krisis BBM juga membuat pengerahan bantuan dan petugas ke lokasi bencana terkendala.
Krisis BBM antara lain terjadi di kota Tarutung, Tapanuli Utara, yang menjadi lokasi posko nasional penanganan bencana alam Tapanuli. Pengisian BBM dijaga oleh aparat kepolisian dan TNI. Kendaraan mengantre selama berhari-hari untuk mendapat pasokan BBM. Aktivitas ekonomi juga lumpuh akibat krisis BBM tersebut.
Sopir angkot, Aldo Pranata Simorangkir (20), sudah empat hari bolak-balik mengantre di SPBU Tarutung. Dia kembali mengantre dari Senin (1/12/2025) pukul 16.00 WIB ketika mendapat kabar ada pasokan BBM yang baru masuk. ”Panjang antrean sekitar 1 kilometer. Ketika hampir giliran saya, BBM sudah habis,” kata Aldo, Selasa (2/12/2025) dini hari.
Krisis BBM terjadi sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda kawasan Tapanuli pada Selasa (25/11/2025), meliputi Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga. Di Tapanuli Tengah dan Sibolga, tidak ada lagi pasokan BBM karena daerah tersebut belum bisa ditempuh dari jalur darat.
Di Tapanuli Utara, BBM nonsubsidi mulai masuk dalam tiga hari terakhir. Namun, pasokannya terbatas. Setiap BBM masuk, pengendara langsung mengantre. Untuk mengurangi panjang antrean, pengendara sepeda motor membeli BBM dengan jeriken.
Rosmauli Sianturi (40) mengantre dari pukul 17.00 sampai lewat tengah malam. Dia berdiri membawa jeriken berjam-jam untuk mendapat BBM sepeda motornya. Dia kesulitan pergi ke ladang dan tidak bisa mengantar anak-anaknya ke sekolah.
Di Tapanuli Selatan, krisis BBM lebih parah. Sudah berhari-hari tidak ada pasokan BBM di kawasan itu. Beberapa pedagang pengecer menjual BBM dengan harga yang melambung tinggi. Chairul Bhazar membeli BBM Pertamax Rp 35.000 per liter dari pengecer. ”Meskipun mahal, orang-orang juga berebut untuk mendapat BBM,” kata Chairul.
Wakil Gubernur Sumut Surya mengatakan, dia telah melakukan rapat koordinasi dengan PT Pertamina untuk mengatasi krisis BBM di wilayah Sumut. Menurut Surya, persediaan BBM mencukupi. Namun, ada kendala dalam distribusi sejak bencana alam melanda kawasan Sumatera bagian utara meliputi Sumut, Sumbar, dan Aceh.
“Kami sudah berdiskusi dengan Pertamina dan dapat kami pastikan bahwa persediaan BBM itu cukup. Untuk SPBU yang berada pada jalur kritikal, kami minta beroperasi 24 jam selama tanggap darurat agar masyarakat tetap terlayani. Kami meminta masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan,” kata Surya.
Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, mereka menambah awak mobil tangki (AMT) dari berbagai wilayah di Indonesia untuk membantu distribusi BBM di kawasan Sumbagut.
“Penguatan ini untuk mempercepat pergerakan mobil tangki dari terminal menuju SPBU, Agen LPG, dan lembaga penyalur lainnya, terutama di wilayah yang akses jalannya baru mulai pulih. Langkah ini turut mempercepat normalisasi operasional SPBU-SPBU kritikal dan wilayah terdampak,” katanya.
Untuk mengantisipasi hambatan distribusi akibat banjir dan longsor, Pertamina Patra Niaga Sumbagut mengaktifkan skema RAE (Regular–Alternative–Emergency). Pada periode 24–27 November 2025, alih suplai dilakukan antara lain sekitar 1.500 kiloliter (KL) untuk Medan Group, 200 KL untuk Kisaran, 100 KL untuk Sibolga–Tapanuli, serta 50 KL untuk Aceh wilayah tengah dan utara.
“Skema ini memastikan suplai tetap mengalir meskipun beberapa akses jalan belum sepenuhnya pulih,” kata Fahrougi. (A1)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini