Washington D.C., Sinata.id — Presiden Donald Trump kembali melontarkan ultimatum keras kepada kelompok militan Hamas, menuntut agar mereka segera melucuti seluruh persenjataan sebagai bagian dari rencana perdamaian yang diusung Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik panjang di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan melalui unggahan Trump di platform Truth Social, di tengah upaya diplomasi yang sedang berjalan untuk menstabilkan kawasan.
Pada Minggu (15/2/2026), Trump menekankan bahwa demiliterisasi penuh Hamas merupakan syarat utama dalam fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata yang telah diteken sebelumnya antara Israel dan Hamas. Ia juga menggarisbawahi komitmen dari sekutu internasional yang tergabung dalam Board of Peace untuk mengalokasikan dana hingga US$5 miliar (sekitar Rp75 triliun) bagi upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Gaza jika persyaratan ini dipenuhi.
Baca Juga: Tanggul Jebol, Banjir Besar Rendam 34 Desa di Grobogan, Ribuan KK Terimbas
“Yang sangat penting adalah Hamas harus menepati komitmennya untuk demiliterisasi secara penuh dan segera,” ujar Trump, dikutip Senin (16/2/2026).
Permintaan Trump kepada Hamas tergolong tajam karena melakukan dorongan untuk memutus peran militer kelompok tersebut di wilayah Gaza—sebuah titik krusial dalam segala rencana perdamaian. Di bawah kerangka kesepakatan yang dibangun sejak Oktober lalu, Israel telah menyetujui fase pertama yang mencakup gencatan senjata dan pembebasan tawanan, sementara rencana lanjutan mencakup penarikan bertahap pasukan Israel dari Jalur Gaza setelah kondisi keamanan terpenuhi.
Sebelumnya, fase pertama rencana perdamaian sempat membuka harapan baru ketika beberapa elemen — termasuk penghentian pertempuran sementara dan pertukaran tahanan — dijalankan. Namun, bagian kritis mengenai pelucutan senjata oleh Hamas masih menjadi batu sandungan utama dalam negosiasi.
Baca Juga: Banjir Rendam Purwodadi, Sejumlah Ruas Jalan Utama Terendam, Akses Transportasi Lumpuh
Trump juga menegaskan bahwa komitmen Board of Peace, kumpulan negara yang terlibat dalam inisiatif perdamaian ini, tidak hanya untuk menstabilkan situasi keamanan, tetapi juga untuk secara signifikan mendukung ekonomi dan infrastruktur Gaza yang hancur akibat perang panjang. Dukungan finansial itu diharapkan dapat mempercepat rehabilitasi daerah perkotaan, layanan publik, serta peluang kerja bagi warga sipil yang terdampak konflik.
Namun, tantangan besar tetap berada pada sikap Hamas terhadap syarat pelucutan senjata. Sejauh ini grup tersebut menunjukkan respons yang berhati-hati dan lebih fokus pada persyaratan politik serta penarikan efektif Israel sebelum sepenuhnya menyerahkan senjatanya, yang menurut para analis merupakan kondisi sulit yang harus dihadapi oleh negosiator internasional.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah ditegakkan sejak Oktober tahun lalu, bentrokan sporadis dan ketegangan tetap terjadi di wilayah Gaza, menimbulkan kekhawatiran bahwa tanpa penanganan menyeluruh terhadap isu persenjataan Hamas, potensi kekerasan kembali mengemuka. Terlebih, laporan terbaru juga mencatat adanya serangan udara Israel di beberapa bagian Gaza yang menewaskan puluhan warga, meski gencatan senjata resmi berlaku. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini