Ia mengaku belum mampu membaca saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Namun berkat pendampingan para guru, wali asuh, dan wali asrama di Sekolah Rakyat, kini ia telah mampu membaca dengan lancar.
Di hadapan Presiden dan para tamu yang hadir, Rizky dengan percaya diri menunjukkan kemampuan membacanya.
Kisah tersebut menjadi bukti nyata bagaimana pendidikan dapat mengubah masa depan seorang anak.
“Saya pas SD itu enggak bisa membaca. Setelah masuk Sekolah Rakyat saya diajarkan guru, wali asuh, dan wali asrama sampai akhirnya lancar membaca,” tutur Rizky.
Sementara itu, calon siswa Kadek Dewi Lestari bersama ibunya, Ni Nyoman Martini, turut menyampaikan rasa syukur karena putrinya mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Sekolah Rakyat.
Dengan mata berkaca-kaca, Martini mengucapkan terima kasih langsung kepada Presiden.
“Terima kasih Pak, anak saya sudah mau masuk sekolah,” ucapnya haru.
Dalam perbincangan tersebut, Presiden Prabowo menanyakan cita-cita Kadek yang ingin menjadi guru tari.
Mendengar hal itu, Presiden memberikan semangat agar ia belajar dengan sungguh-sungguh demi meraih impiannya.
“Belajar yang baik ya, nanti belajar yang baik ya,” pesan Presiden.
Kisah lain datang dari Ni Kadek Aryani, remaja berusia 15 tahun yang terpaksa berhenti sekolah selama dua tahun setelah lulus sekolah dasar akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Putri seorang petani itu mengaku sempat kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, meski memiliki keinginan besar untuk tetap bersekolah.
“Saya kepingin sekali dari dulu sekolah. Saya sudah tamat SD. Dua tahun sudah nggak sekolah,” ungkap Aryani.
Harapan itu kembali tumbuh ketika petugas program Sekolah Rakyat mendatanginya dan menawarkan kesempatan untuk kembali mengenyam pendidikan. Kesempatan tersebut disambutnya dengan penuh antusias.
“Saya berterima kasih sekali sama Pak Prabowo yang sudah mau bikin sekolah,” katanya. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini