Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Dunia

Tangis Bayi Pecah Setelah 17 Tahun di Desa Korea Selatan, Jadi Simbol Harapan

tangis bayi pecah setelah 17 tahun di desa korea selatan, jadi simbol harapan
Ilustrasi bayi lahir. (alodokter)

Seoul, Sinata.id – Setelah hampir dua dekade tanpa kelahiran, sebuah desa kecil di Korea Selatan akhirnya kembali mendengar tangisan bayi. Peristiwa tersebut terjadi di wilayah Eunha, distrik Hongseong, pada Maret 2026.

Tangis pertama bayi laki-laki bernama Yong-jun memecah keheningan yang telah berlangsung selama 17 tahun. Bagi warga setempat, momen ini bukan sekadar kelahiran, melainkan simbol harapan baru bagi masa depan desa.

Advertisement

Jalanan yang biasanya lengang mendadak dipenuhi spanduk ucapan selamat. Warga menyambut Yong-jun sebagai “warga spesial” yang membawa optimisme di tengah kekhawatiran akan penurunan populasi.

Salah satu spanduk bertuliskan, “Hadiah bermakna hadir untuk kami di tahun 2026. Selamat atas kelahiran bayi Yong-jun.”

Baca Juga  Singapura Longgarkan Langkah Pencegahan Virus Nipah Mulai 23 Februari 2026

Simbol Harapan di Tengah Penurunan Populasi

Yong-jun merupakan putra dari pasangan Jeong Hae-deok dan SYardani, perempuan keturunan Kamboja yang kini menetap di desa tersebut. Kehadirannya disambut hangat tidak hanya sebagai anggota keluarga baru, tetapi juga sebagai titik terang bagi komunitas yang terus menyusut.

Dalam satu dekade terakhir, jumlah penduduk Eunha menurun drastis, dari lebih dari 2.600 jiwa menjadi kurang dari 2.000 jiwa. Mayoritas penduduk merupakan lansia, sementara angka kelahiran hampir tidak ada.

Tangisan bayi yang lama tidak terdengar kini menjadi sumber kebahagiaan tersendiri bagi warga. Bahkan, pada bulan yang sama, satu-satunya sekolah dasar di desa tersebut menerima empat siswa baru di kelas satu jumlah kecil yang memiliki arti besar bagi keberlangsungan komunitas.

Baca Juga  Penembakan di Gala Media Washington 2026, Donald Trump Dievakuasi, Pelaku Ditangkap

Dukungan Pemerintah Setempat

Kepala pemerintahan setempat, Shim Seon-ja, menyebut kelahiran ini sebagai kebahagiaan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami berkomitmen memberikan dukungan administratif dan kesejahteraan semaksimal mungkin agar wilayah ini menjadi tempat terbaik untuk membesarkan anak,” ujarnya.

Cerminan Krisis Demografi Korea Selatan

Fenomena ini menjadi gambaran nyata dari krisis demografi yang tengah dihadapi Korea Selatan. Negara tersebut mengalami penurunan angka kelahiran yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2023, tingkat kelahiran tercatat hanya 0,72 terendah di dunia dan jauh di bawah angka ideal 2,1 untuk menjaga stabilitas populasi. Sementara itu, lebih dari 21 persen penduduknya berusia 65 tahun ke atas, menjadikannya sebagai negara dengan kategori “super-aged society”.

Baca Juga  Perang AS–Iran Memanas, Pasar Global Rontok dan Harga Minyak Melonjak

Pemerintah Korea Selatan telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan angka kelahiran, mulai dari bantuan finansial, fasilitas penitipan anak gratis, hingga kemudahan akses perumahan bagi pasangan muda.

Kelahiran Yong-jun di Eunha menjadi simbol kecil dari harapan besar. Di tengah ancaman krisis populasi, satu tangisan bayi mampu menghidupkan kembali semangat sebuah komunitas yang nyaris kehilangan generasi penerus. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini