Jakarta, Sinata.id – Sorotan terhadap pengungkapan penyelundupan dua ton narkotika menggunakan Kapal Sea Dragon terus bergulir. Anggota Komisi III DPR RI, Habib Aboe Bakar Al Habsyi, meminta aparat penegak hukum tidak berhenti pada penangkapan anak buah kapal (ABK) semata.
Ia mendesak agar aktor intelektual di balik kejahatan tersebut turut diburu dan diproses secara hukum.
Pernyataan itu disampaikan menyusul diamankannya seorang ABK asal Medan, Sumatera Utara, Fandi Ramadhan, dalam kasus penyelundupan narkoba berskala besar tersebut. Menurut Habib Aboe, penahanan terhadap awak kapal tidak otomatis menuntaskan perkara.
“Secara logika, ABK tentu bukan pemilik kapal. Tidak mungkin pula ia memiliki kemampuan finansial untuk membeli atau mengendalikan dua ton narkoba. Jadi, dengan menangkap dan memidanakan Fandi, bukan berarti kasus ini selesai,” ujarnya, Senin (23/2/2026).
Politisi dari Fraksi PKS itu menekankan, proses hukum terhadap pelaku lapangan memang dapat dilakukan jika terbukti bersalah dalam persidangan. Namun, ia mengingatkan agar aparat tidak menjadikan mereka sebagai pihak yang dikorbankan demi menutup jaringan besar yang seharusnya dibongkar hingga ke akar.
“Jangan sampai penegakan hukum berhenti pada pelaksana teknis di lapangan. Menghukum ABK bisa saja sesuai fakta hukum, tetapi jangan sampai mereka menjadi tumbal. Aparat harus mampu mengungkap dan menangkap intellectual dader dari perkara ini,” tegasnya.
Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Kalimantan Selatan I itu menilai, penyelundupan narkoba dalam jumlah fantastis seperti dua ton mustahil berdiri sendiri. Ia meyakini terdapat jaringan terorganisir yang bekerja sistematis, mulai dari pemodal, pengatur distribusi, hingga operator lapangan.
“Seluruh mata rantai jaringan harus dimintai pertanggungjawaban pidana. Dari pemilik modal, pengatur logistik, sampai operator. Ini bukan kejahatan kecil, melainkan kejahatan terstruktur dan masif yang mengancam masa depan generasi bangsa,” ujarnya.
Habib Aboe juga mengingatkan bahwa pemberantasan narkotika tidak akan efektif apabila aparat hanya fokus pada kurir atau awak kapal. Menurutnya, pendekatan yang setengah hati justru memberi ruang bagi jaringan untuk terus berkembang.
“Kalau yang ditangkap hanya kurir dan ABK, jaringan akan tetap hidup dan bahkan tumbuh kembali. Perang melawan narkoba harus menyasar otak dan pemodal besar di baliknya. Tanpa itu, kita tidak akan pernah benar-benar menang,” katanya.
Ia pun mendorong aparat bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel dalam mengusut tuntas kasus tersebut. Penanganan yang menyeluruh, lanjutnya, penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap komitmen negara dalam memerangi narkotika.
“Komisi III DPR RI akan memberikan perhatian serius terhadap kasus ini. Kita ingin memastikan hukum ditegakkan secara adil dan menyeluruh, bukan tebang pilih,” pungkasnya. (A18)
Sumber: Parlementaria










Jadilah yang pertama berkomentar di sini