Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
News

Siswa SMP di Grobogan Dibully hingga Tewas oleh Teman Sekelas

angga bagus perwira (12), seorang siswa smp negeri 1 geyer, grobogan, tewas diduga akibat penganiayaan teman sekelas saat jam pelajaran.
Angga Bagus Perwira (12), siswa kelas VII SMP Negeri 1 Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, meninggal dunia di ruang kelas usai diduga dianiaya oleh teman-teman sekelasnya pada Sabtu (11/10/2025). (kompascom)

Sinata.id – Angga Bagus Perwira (12), siswa kelas VII SMP Negeri 1 Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, meninggal dunia di ruang kelas usai diduga dianiaya oleh teman-teman sekelasnya pada Sabtu (11/10/2025). Polisi kini menyelidiki kasus tersebut yang diduga kuat akibat perundungan di lingkungan sekolah.

Suasana duka menyelimuti Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Seorang bocah Angga, meregang nyawa di tempat yang seharusnya menjadi ruang belajar dan tawa, ruang kelasnya sendiri.

Advertisement

Sabtu (11/10/2025) pagi itu, suasana sekolah yang biasanya riuh berubah mencekam. Angga ditemukan tak bernyawa di ruang kelas VII G setelah diduga mengalami penganiayaan atau bullying yang dilakukan oleh teman-temannya sendiri.

Baca Juga: Terungkap! Ini Dia Kasus Mbah Tarman yang Pernah Heboh di Tahun 2022

Dua Kali Dikeroyok di Jam Pelajaran

Menurut kesaksian teman sekelasnya, APR (12), tragedi bermula saat jam pelajaran baru saja dimulai dan guru belum masuk kelas. Angga sempat diejek oleh beberapa temannya. Tak terima dengan olok-olok itu, perkelahian pun pecah.

Baca Juga  TPL di Pusaran Polemik, Pemerintah Pusat Didesak Bentuk Tim Pencari Fakta

“Angga dipukuli di bagian kepala, lalu berhenti. Itu jam ketiga, tapi belum ada guru,” tutur APR, siswi kelas VII F yang ruangnya bersebelahan dengan kelas korban.

Namun situasi belum berakhir. Sekitar pukul 11.00 WIB, Angga kembali dikerubungi dan dipaksa berkelahi dengan siswa lain berinisial AD (12).

“Mereka bilang, ‘Kamu beraninya sama siapa?’ lalu Angga disuruh berduel lagi. Dia dipukul berkali-kali di kepala sampai kejang-kejang,” lanjut APR.

Ironisnya, kedua insiden itu terjadi saat jam pelajaran aktif, tetapi tanpa satu pun guru yang hadir di dalam kelas.

Kejang di Kelas, Nyawa Tak Tertolong

Usai menerima pukulan di kepala, Angga tiba-tiba kejang dan tak sadarkan diri di depan teman-temannya. Panik, para siswa membawanya ke UKS sekolah.

Sayang, nyawa bocah itu tak terselamatkan.

“Kami dapat kabar Angga meninggal di sekolah. Katanya sempat dikeroyok teman-temannya,” ujar Suwarlan (45), paman korban.

Baca Juga  Tanah Terus Bergerak, Desa di Tegal Terancam Tenggelam Pelan-Pelan

Jenazah Angga kemudian dibawa ke RSUD dr. R. Soedjati Soemodiardjo, Purwodadi, untuk dilakukan otopsi oleh tim Biddokkes Polda Jateng.

Hasil pemeriksaan mengungkap adanya penggumpalan darah di kepala.

“Dia Anak Pendiam dan Penurut”

Kedua orangtua korban, Sawendra dan Ike Purwitasari, segera pulang dari Cianjur, Jawa Barat, setelah menerima kabar duka itu. Mereka tiba di rumah duka dengan wajah tak percaya.

Sang kakek, Pujiyo (50), menceritakan bahwa Angga sudah beberapa kali mengeluhkan perlakuan kasar teman-temannya di sekolah. Bahkan, ia sempat tak mau berangkat sekolah karena trauma.

“Dia pernah pulang dengan luka di kepala karena dipukul. Kami sudah lapor ke sekolah, tapi kejadian itu terulang lagi. Dia itu anak penurut, pendiam, suka bola. Enggak pernah macam-macam,” ujar Pujiyo.

Keluarga juga sempat mendengar kabar simpang siur bahwa Angga dijatuhkan dari tangga sebelum meninggal. Mereka pun meminta agar penyebab kematian cucu mereka diusut tuntas melalui proses hukum dan otopsi yang menyeluruh.

Baca Juga  Video Mukena Pink Viral di Media Sosial, Netizen Ramai Cari Link Tanpa Sensor

Sekolah Bungkam

Kepala Sekolah SMPN 1 Geyer, Sukatno, akhirnya buka suara. Dalam pesan singkatnya, ia menyatakan kasus ini telah ditangani oleh pihak Polres Grobogan.

“Permasalahan di sekolah sudah ditangani oleh pihak berwajib,” ujarnya singkat.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Grobogan, AKP Rizky Ari Budianto, memastikan bahwa polisi telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk teman-teman korban dan para guru.

“Masih dalam proses penyelidikan. Fokus kami pada unsur penganiayaan dan dugaan kelalaian pengawasan pihak sekolah,” tegasnya.

Minggu pagi (12/10/2025), jenazah Angga dimakamkan di pemakaman umum Desa Ledokdawan, tak jauh dari rumahnya. Warga desa, teman-teman sekolah, dan keluarga berkumpul dalam keheningan.

Sang ibu terus menggenggam foto kecil putranya, sementara sang ayah berdiri terpaku menatap tanah merah yang menutup tubuh mungil Angga. [zainal/a46]


sumber: kompascom

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini