Khartoum, Sinata.id – Gelombang kekerasan terbaru dalam perang saudara Sudan kembali memakan korban jiwa dan memicu krisis kemanusiaan yang semakin parah. Dalam beberapa hari terakhir, serangan yang dilakukan oleh pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) di wilayah Darfur Utara membuat lebih dari 3.000 warga sipil terpaksa mengungsi dari rumah mereka, demikian laporan dari organisasi medis setempat.
Menurut Sudan Doctors Network, sebuah lembaga medis yang memantau konflik di Sudan, serangan senjata berat yang terjadi di kota Misteriha telah menewaskan minimal 28 orang dan melukai setidaknya 39 lainnya. Angka ini kemungkinan lebih tinggi, karena akses ke daerah konflik sangat terbatas, sehingga data perkiraan masih terus diperbarui.
Bentrokan ini merupakan bagian dari perang saudara yang meletus sejak April 2023, ketika ketegangan antara tentara Sudan dan RSF berubah menjadi konflik bersenjata berkepanjangan yang telah menewaskan puluhan ribu jiwa dan menggusur jutaan lainnya.
Baca Juga: Bandar Narkoba “Koko Erwin” Ditangkap di Tanjung Balai Saat Hendak Kabur ke Malaysia
Jutaan warga Sudan telah kehilangan tempat tinggal akibat konflik yang tak kunjung reda. Banyak keluarga yang melarikan diri tengah malam dengan hanya membawa apa yang mereka bisa, meninggalkan harta benda dan sumber penghidupan mereka. Mayoritas pengungsi adalah perempuan, termasuk ibu hamil, yang kini menghadapi kondisi kesehatan yang sangat memprihatinkan tanpa akses memadai terhadap makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Rincian dari wilayah yang diserang menunjukkan bahwa serangan ini terjadi di lokasi yang dikenal sebagai basis kuat pemimpin suku lokal, namun sasaran tembakan juga mengenai fasilitas umum seperti pusat kesehatan dan lokasi pemukiman sipil, memperburuk krisis kemanusiaan.
Selama perang yang hampir memasuki tahun ketiga ini, angka kematian dan jumlah pengungsian terus meningkat. Organisasi kesehatan dunia (World Health Organization) memperkirakan lebih dari 40.000 orang tewas, sementara 12 juta lainnya telah kehilangan tempat tinggal mereka sejak konflik dimulai. Kondisi ini telah menarik kecaman luas dari komunitas internasional, termasuk seruan untuk gencatan senjata dan akses bantuan kemanusiaan yang lebih besar.
Situasi di Sudan kini tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi juga ancaman regional karena gelombang pengungsi dan ketidakstabilan yang melanda negara-negara tetangga. Tercatat konflik telah menyebar hingga wilayah perbatasan, menimbulkan ketegangan baru dengan negara tetangga seperti Chad.
Organisasi kemanusiaan dan kelompok advokasi HAM mendesak segera diakhirinya kekerasan yang menargetkan warga sipil. Mereka menyerukan agar masyarakat internasional memperluas dukungan bagi pengungsi, membuka koridor bantuan, dan menekan pihak yang berkonflik untuk menghormati hukum kemanusiaan internasional.
Perang yang menelan korban besar terus membentuk wajah Sudan hari ini, sementara nasib jutaan warganya tetap terombang-ambing di tengah kekerasan yang tak kunjung padam. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini