Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Road to ADEXCO 2026, Digelar Seminar Nasional Dorong Inovasi Teknologi dan Industrialisasi Kebencanaan

seminar nasional road to adexco 2026.
Seminar Nasional Road to ADEXCO 2026. (Foto: BNPB)

Jakarta, Sinata.id– Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun kemandirian teknologi nasional dengan menggelar Seminar Nasional Road to ADEXCO 2026.

Forum ini akan mengangkat tema besar implementasi inovasi teknologi dan industrialisasi kebencanaan, sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan Indonesia menghadapi ancaman bencana.

Advertisement

Seminar dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 29 April 2026 di Jakarta secara luring dan daring, serta dapat disaksikan publik melalui kanal YouTube resmi BNPB.

Kegiatan ini menjadi rangkaian awal menuju pameran industri kebencanaan dan perlindungan sipil ADEXCO 2026 yang akan digelar pada 9–12 September 2026.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Dr. Raditya Jati mengatakan, agenda ini selaras dengan arah kebijakan prioritas Presiden Prabowo Subianto, khususnya di bidang industrialisasi dan hilirisasi.

“Forum ini mendorong penguatan industrialisasi di sektor kebencanaan yang berbasis kemandirian nasional serta inovasi teknologi dalam negeri,” ujar Raditya.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara rawan bencana membutuhkan lompatan besar dalam penyediaan teknologi penanggulangan bencana.

Karena itu, paradigma lama yang hanya bergantung pada pembelian teknologi dari luar negeri harus diubah menjadi pengembangan industri nasional yang mandiri dan berkelanjutan.

Seminar ini juga menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan kebijakan pemerintah dengan kesiapan dunia industri dalam membangun ekosistem teknologi kebencanaan yang terpadu.

Raditya menilai banyak inovasi dalam negeri yang berhenti di tahap prototipe dan belum mampu masuk ke pasar industri.

Melalui forum ini, berbagai pihak diharapkan dapat mencari solusi agar hasil riset dan inovasi bisa lolos standardisasi serta diproduksi massal.

Tak hanya itu, seminar juga akan membahas dukungan pemerintah terhadap sektor kebencanaan, mulai dari pendanaan riset, insentif pajak, hingga investasi strategis bagi pelaku usaha.

“Tujuan akhirnya adalah menghasilkan rekomendasi nyata untuk memperkuat inovasi dan mempercepat kemandirian teknologi kebencanaan nasional,” jelasnya.

Komitmen terhadap inovasi kebencanaan sendiri telah digaungkan BNPB sejak forum Global Platform for Disaster Risk Reduction di Bali pada 2022.

Kini, langkah tersebut diperkuat melalui pendekatan industrialisasi agar sektor kebencanaan tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan peluang untuk menciptakan teknologi unggulan nasional.

BNPB berharap seminar ini tak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi juga melahirkan kebijakan konkret, praktik terbaik, serta implementasi nyata yang mampu mempercepat lahirnya industri kebencanaan nasional.

“Melalui pendekatan ini, kita ingin membangun ekosistem industri kebencanaan yang mandiri, adaptif, dan berkelanjutan sebagai fondasi menuju Indonesia tangguh bencana serta mendukung visi Indonesia Emas 2045,” tutup Raditya.

Seminar nasional ini rencananya akan dibuka oleh Wakil Menteri Bappenas dan menghadirkan pembicara dari kementerian/lembaga, akademisi, praktisi, hingga pelaku usaha yang bergerak di sektor kebencanaan. (A08)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini