Oleh: Pdt Mis Ev Daniel Pardede,MH
Mazmur 73:25–26 menegaskan pengakuan iman seorang percaya yang telah menyadari bahwa satu-satunya milik yang benar-benar kekal hanyalah Allah sendiri.
Pemazmur berkata, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Pernyataan ini menunjukkan sikap iman yang tidak lagi bergantung pada harta, keturunan, maupun kehormatan duniawi.
Dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak manusia yang beranggapan bahwa selama hidup di dunia, kekudusan dan kebenaran mustahil dijalani.
Pandangan ini membuat sebagian orang tetap bertahan dalam kehidupan yang tidak berkenan kepada Tuhan, tanpa pertobatan, dengan dalih bahwa manusia tidak mungkin lepas dari dosa selama masih hidup di dunia. Sikap tersebut pada hakikatnya adalah pembenaran diri, sebagaimana ditegaskan dalam Yeremia 2:35, ketika manusia merasa dirinya tidak bersalah di hadapan Tuhan.
Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa dosa masuk ke dalam dunia melalui satu manusia, yaitu Adam, dan keselamatan datang melalui satu manusia pula, yakni Yesus Kristus (1 Korintus 15:21–22).
Artinya, manusia memang lahir dalam dosa, tetapi juga diberikan jalan keselamatan melalui karya penebusan Kristus. Kesadaran inilah yang melahirkan pertobatan sejati dan kehidupan yang diperbarui.
Mazmur 73:25–26 mencerminkan iman orang percaya yang telah lahir baru dan yakin akan keselamatan yang diterimanya.
Keyakinan tersebut membuatnya tidak lagi terikat pada nilai-nilai dunia seperti kekayaan (hamoraon), keturunan (hagabeon), dan kehormatan (hasangapon), karena ia telah menerima milik yang kekal di dalam Allah.
Alkitab menegaskan bahwa anugerah paling berharga dan kekal yang diberikan Tuhan kepada umat-Nya adalah iman, pengharapan, dan kasih. Dari ketiganya, kasih menempati posisi yang paling utama (1 Korintus 13:13). Kasih inilah yang menjadi dasar hidup orang percaya dalam menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, baik di dunia maupun dalam pengharapan akan hidup yang kekal.
Oleh sebab itu, orang percaya diingatkan agar tidak hidup dengan pola pikir bahwa kesucian hanya dapat dicapai di sorga. Firman Tuhan menegaskan bahwa selama hidup di dunia, umat Tuhan dipanggil untuk menolak perbuatan daging dan hidup menghasilkan buah Roh (Galatia 5:19–23).
Panggilan ini bukan sekadar tuntutan, melainkan respons iman atas keselamatan yang telah diterima.
Mazmur 1:1–6 kembali mengingatkan agar umat Tuhan tidak mengikuti nasihat orang fasik, tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.
Sebaliknya, hidup orang percaya harus berakar pada firman Tuhan yang direnungkan siang dan malam, sehingga hidupnya menjadi berkat dan menghasilkan buah pada waktunya.
Ketika Allah menjadi satu-satunya milik yang kita andalkan, maka hidup di dunia tidak lagi dikuasai oleh kefanaan, melainkan diarahkan kepada kekekalan yang telah dijanjikan-Nya.(A27)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini