Tokyo, Sinata.id — Musim bunga sakura yang menjadi ikon Jepang kini dibayangi kekhawatiran terkait keselamatan publik. Sejumlah pohon sakura jenis Somei Yoshino di Tokyo dilaporkan mulai rapuh akibat usia tua.
Kekhawatiran ini mencuat setelah dua pohon sakura tumbang pada Jumat (3/4/2026). Satu pohon di Taman Kinuta merusak pagar, sementara pohon lainnya di jalur hijau Chidorigafuchi nyaris jatuh ke parit Istana Kekaisaran. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Pohon yang tumbang di Taman Kinuta memiliki tinggi sekitar 18 meter dengan diameter batang mencapai 2,5 meter. Pohon tersebut diperkirakan telah berusia lebih dari 60 tahun.
Insiden ini menambah daftar kejadian serupa. Pada Maret 2026, sebuah pohon sakura tua di lokasi yang sama tumbang dan menyebabkan seorang pejalan kaki mengalami cedera.
Ratusan Pohon Sakura Menua
Data pemerintah Tokyo menunjukkan bahwa pada tahun lalu sebanyak 85 pohon tumbang di berbagai taman, dengan tiga orang dilaporkan terluka. Sebagian besar pohon yang tumbang merupakan sakura tua.
Masakazu Noguchi, pejabat metropolitan Tokyo yang membidangi taman umum, menyebut kondisi ini menjadi perhatian serius, terutama saat musim hanami—tradisi menikmati keindahan bunga sakura—yang selalu menarik banyak pengunjung.
Anggota parlemen Tokyo, Yutaka Kazama, juga menyampaikan kekhawatirannya. Ia menilai sejumlah pohon dengan akar terbuka atau batang yang membusuk berpotensi membahayakan, sehingga diperlukan langkah mitigasi tanpa harus melakukan penebangan secara masif.
Faktor Penyebab Kerusakan
Ahli pohon Hiroyuki Wada menjelaskan bahwa penuaan, erosi, serta pertumbuhan jamur di dalam batang menjadi penyebab utama melemahnya pohon sakura.
Ia menyebut beberapa tanda yang perlu diwaspadai, seperti kemiringan batang yang ekstrem, munculnya bunga di bagian bawah batang, serta pertumbuhan jamur di area pangkal.
“Banyak pohon ditanam setelah Perang Dunia II dan kini berusia 70 hingga 80 tahun. Kondisi ini membuatnya semakin rentan, apalagi dengan dampak perubahan iklim seperti panas ekstrem dan musim kemarau panjang,” ujarnya.
Langkah Antisipasi Pemerintah
Menjelang musim sakura, pemerintah Tokyo telah melakukan inspeksi terhadap ratusan pohon di taman-taman utama. Di Taman Kinuta, lebih dari 800 pohon telah diperiksa.
Sejumlah pohon yang dinilai berisiko telah ditebang, sementara beberapa lainnya diberi tanda peringatan. Namun, pohon yang tumbang pada Kamis dilaporkan belum memiliki penanda bahaya.
“Kami masih melakukan langkah sementara, seperti inspeksi dan penandaan. Upaya penanaman kembali secara menyeluruh masih menjadi rencana jangka panjang,” kata Noguchi.
Dilema Antara Keindahan dan Keselamatan
Di Taman Inokashira, puluhan pohon sakura tua telah ditebang dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari program peremajaan. Meski demikian, langkah ini memunculkan keluhan dari masyarakat yang merindukan keindahan lanskap sakura yang utuh.
Sejumlah pengunjung mengaku tetap datang menikmati sakura meskipun ada kekhawatiran.
“Saya sedikit khawatir, tetapi masih aman selama menjaga jarak dari batang pohon,” ujar seorang pengunjung.
Bunga sakura sendiri merupakan simbol penting budaya Jepang yang biasanya mencapai puncak mekarnya pada akhir Maret hingga awal April, bertepatan dengan awal tahun ajaran dan musim baru di negara tersebut. (aol/A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini