Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

Pers, Mata dan Telinga Petani di Lapangan

pers, mata dan telinga petani di lapangan
Rahmat Saleh

Jakarta, Sinata.id – Di tengah peringatan Hari Pers Nasional (HPN) pada Senin (9/02/2026) lalu, Anggota Komisi DPR RI, Rahmat Saleh, menyoroti peran media massa yang jauh lebih dari sekadar penyampai berita.

Menurutnya, pers adalah jembatan vital yang menghubungkan kebijakan pemerintah dengan realitas yang dihadapi para petani dan nelayan di lapangan.

Advertisement

“Pers memiliki tanggung jawab moral besar. Tanpa pengawasan media, kebijakan pertanian bisa melenceng, distribusi subsidi pupuk dan alat mesin pertanian (alsintan) bisa tidak tepat sasaran,” tegas Rahmat.

Baginya, media bukan hanya pilar informasi, tapi juga pilar pengawasan yang memastikan suara petani terdengar hingga ke pusat pemerintahan.

Beberapa isu krusial, seperti anjloknya harga gabah hingga masalah irigasi, baru mendapat perhatian serius setelah diliput secara luas.

Baca Juga  117 Titik Pantau Hilal Disiapkan, Pemerintah Gelar Sidang Isbat Lebaran 19 Maret 2026

“Laporan jurnalistik yang mendalam sangat membantu DPR. Data di atas kertas seringkali berbeda jauh dengan kenyataan di sawah maupun pasar,” ujarnya kepada Parlementaria, Selasa (10/2/2026).

Melihat tantangan ke depan, Rahmat berharap media terus mengedukasi publik soal isu-isu kritis, termasuk krisis iklim dan alih fungsi lahan. Regenerasi petani juga menjadi sorotan mengingat usia rata-rata petani Indonesia semakin menua.

Ia mendorong pers untuk tetap objektif dalam mengawal transparansi data stok pangan, agar informasi tidak disalahgunakan spekulan untuk mengutak-atik harga.

Menutup pernyataannya, Legislator Dapil Sumbar I itu memberi apresiasi tinggi kepada para jurnalis yang konsisten menyoroti sektor pangan, meski sektor ini sering dianggap kurang menarik secara komersial.

Baca Juga  Firman Soebagyo: Banjir Bukan Takdir, Tapi Akibat Kebijakan dan Kerusakan Lingkungan

“Pers yang sehat adalah kunci lahirnya kebijakan nasional yang sehat dan adil,” pungkas Rahmat. (A18)

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini