Jakarta, Sinata.id – Mabes TNI memberikan klarifikasi resmi terkait video pembubaran massa di Lhokseumawe, Aceh, yang sempat viral di media sosial.
Kapuspen TNI, Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah, menegaskan bahwa tindakan yang diambil prajurit Korem 011/Lilawangsa sudah sesuai prosedur dan mengedepankan pendekatan persuasif.
Langkah tegas ini diambil bukan tanpa alasan. Kehadiran atribut terlarang serta senjata api menjadi pemicu utama intervensi aparat di lapangan.
Kronologi: Dari Konvoi hingga Temuan Senjata Api
Peristiwa bermula pada Kamis (25/12/2025) hingga Jumat dini hari. Sekelompok massa melakukan aksi demonstrasi dan konvoi di jalanan Kota Lhokseumawe. Situasi mulai memanas ketika simbol-simbol yang identik dengan gerakan separatis—bendera Bulan Bintang—dikibarkan di tengah kerumunan.
Melihat potensi gangguan ketertiban, Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran segera bergerak cepat bersama Polres Lhokseumawe dan Kodim 0103/Aceh Utara.
”Aparat awalnya memberikan imbauan secara humanis agar aksi dihentikan dan bendera diserahkan secara sukarela. Namun, karena tidak diindahkan, petugas melakukan pembubaran terukur demi mencegah eskalasi massa,” ujar Mayjen Freddy, Sabtu (27/12/2025).
Temuan Barang Bukti Berbahaya
Di balik kericuhan yang sempat terekam kamera, petugas menemukan fakta yang mengkhawatirkan. Dalam pemeriksaan di lokasi, aparat mengamankan:
- Satu pucuk pistol jenis Colt M1911 lengkap dengan amunisi dan magazen.
- Senjata tajam jenis rencong.
- Sejumlah atribut bendera yang dilarang oleh hukum.
Pemilik senjata tersebut langsung diamankan dan diserahkan ke pihak kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut.
Di sisi lain, koordinator aksi menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan bentuk kesalahpahaman dan telah sepakat untuk berdamai dengan aparat.
Landasan Hukum dan Pesan Perdamaian
TNI menegaskan bahwa pelarangan simbol separatis memiliki dasar hukum yang kuat, mulai dari KUHP Pasal 106 dan 107 hingga PP Nomor 77 Tahun 2007. Penggunaan simbol tersebut dinilai bertentangan dengan kedaulatan NKRI.
Mayjen Freddy juga menyayangkan beredarnya video dengan narasi menyesatkan yang mencoba mendiskreditkan TNI. Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum terverifikasi.
Komitmen TNI untuk Aceh:
Pendekatan Humanis: Mengutamakan dialog dan langkah persuasif dalam meredam konflik.
Stabilitas Keamanan: Memastikan situasi Aceh tetap kondusif pascabencana.
Fokus Pemulihan: Mendukung masyarakat Aceh agar tetap fokus pada pembangunan sosial dan ekonomi. []









Jadilah yang pertama berkomentar di sini