Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Inspiratif

Museumnya Diresmikan Prabowo, Siapa Marsinah?

museum marsinah
Patung Marsinah. (Foto: tangkapan layar)

Jakarta, Sinata.id – Museum Marsinah dan Rumah Singgah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Diresmikan di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. 

Advertisement

Prabowo tiba di lokasi sekitar pukul 08.58 WIB menggunakan mobil kepresidenan Maung Garuda, disambut antusias masyarakat sekitar. 

Museum dibangun di kawasan rumah masa kecil Marsinah dan dilengkapi fasilitas rumah singgah bagi pekerja dari berbagai daerah. 

Museum berdiri di atas lahan seluas 938,6 meter persegi dan terdiri atas dua bangunan — museum utama dan rumah singgah.

Marsinah sebelumnya telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Prabowo pada 10 November 2025. 

Prabowo bercerita bahwa ia melihat langsung kamar dan sejumlah peninggalan Marsinah yang masih dipertahankan seperti semula di museum tersebut. 

Peresmian Museum Marsinah mendapat sambutan positif dari kalangan pegiat warisan budaya. 

Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) sekaligus praktisi museum, Jhohannes Marbun, menilai langkah ini sebagai bentuk nyata komitmen negara dalam merawat memori kolektif bangsa.

“Kami memberikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas perhatian dan dukungannya terhadap pembangunan Museum Marsinah,” katanya dalam siaran pers, Sabtu (16/5/2026).

Kata dia, ini merupakan langkah penting dalam menghadirkan penghormatan negara terhadap sejarah perjuangan kaum buruh.

Khususnya perjuangan buruh perempuan yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia.

Siapa Marsinah?

Untuk memahami mengapa museum ini penting, perlu kembali ke 1993 — tahun yang mengubah wajah gerakan buruh Indonesia selamanya.

Marsinah bekerja di pabrik jam tangan PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo sekitar 1990. 

Ia kemudian menjadi juru bicara rekan buruhnya dan aktif menuntut kenaikan upah dan penghormatan terhadap hak pekerja. 

Pada 3–4 Mei 1993, buruh PT CPS menggelar aksi mogok kerja, menuntut pemenuhan hak mereka — termasuk kenaikan upah dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 sesuai keputusan Menteri Tenaga Kerja. 

Sebelas dari dua belas tuntutan itu akhirnya dikabulkan dan dituangkan dalam Surat Persetujuan Bersama. 

Tapi kemenangan itu tak berlangsung lama. Pada 5 Mei 1993, tiga belas buruh dipanggil Kodim 0816 Sidoarjo dan dipaksa mengundurkan diri dari PT CPS. 

Marsinah berusaha membantu ke-13 rekannya dan bahkan berikrar untuk mengadukan Kodim ke pengadilan. 

Malam itu, Marsinah pergi — dan tidak pernah kembali.

Pada 8 Mei 1993, jasad Marsinah ditemukan di sebuah gubuk di Desa Wilangan, Kabupaten Nganjuk, dalam keadaan penuh luka yang menunjukkan bekas penyiksaan. 

Hasil autopsi menunjukkan Marsinah meninggal akibat pendarahan hebat. 

Luka pada tubuhnya juga menunjukkan adanya upaya untuk membuat kematiannya tampak seperti kasus kekerasan seksual, agar motif pembunuhan terkait aktivisme buruh tidak terungkap. 

Keadilan yang Tak Pernah Tuntas

Pada Oktober 1993, delapan petinggi dan karyawan CPS ditangkap aparat. 

Salah satunya adalah Direktur PT CPS Judi Susanto yang ditetapkan sebagai tersangka. 

Namun proses penyidikan dinilai dipenuhi kejanggalan. Kasus pembunuhannya hingga kini masih menjadi misteri, meskipun beberapa tersangka pernah diadili namun kemudian dibebaskan karena kurangnya bukti. Pelaku sesungguhnya tak pernah dihukum. Keadilan tak pernah benar-benar datang.

Warisan yang Hidup Lebih Lama dari Penguasa

Marsinah dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun 1993 sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya membela hak asasi manusia. 

Namanya kemudian diabadikan dalam film, lagu, dan berbagai karya seni sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. 

Presiden Prabowo Subianto kemudian menetapkan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional. Kini, sebuah museum berdiri atas namanya — di tanah yang sama tempat ia pernah berjuang. (A08)

 

Baca Juga  Prabowo: Rp40 Triliun Aset Negara Diselamatkan, Dipakai Bangun Sekolah dan Puskesmas

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini