Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga momentum pemulihan sekaligus meningkatkan daya tahan ekonomi terhadap berbagai tantangan global.
Dalam menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia disebut terus memperkuat koordinasi kebijakan.
Menurut Purbaya, sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter akan memberikan dampak yang lebih signifikan bagi perekonomian nasional.
“Dalam perjalanannya tentu kita akan meningkatkan juga koordinasi dengan bank sentral supaya kebijakan semakin sinkron, supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian. Tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke rupiah,” katanya.
Purbaya optimistis kebijakan yang terkoordinasi dengan baik akan mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memberikan dampak positif terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat.
Menurutnya, stabilitas rupiah akan menciptakan kepastian bagi pelaku usaha dan pedagang sekaligus membantu menjaga daya beli masyarakat di tengah berbagai tantangan ekonomi.
“Dengan nanti kebijakan yang bagus, itu kita akan melihat rupiah yang lebih stabil, sehingga para pedagang tahu, tempe dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik dan tidak terbebani lagi, tidak mengalami keadaan beban hidup yang terlalu signifikan. Jadi sinkronisasi kebijakan ini amat baik sekali untuk ekonomi kita di level makro maupun di level mikro ke depannya,” tutup Purbaya. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini