Jakarta, Sinata.id — Pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berhenti meskipun memasuki periode libur panjang Ramadan dan cuti bersama Idul Fitri 1447 Hijriah. Langkah penyesuaian telah disusun oleh Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjaga kesinambungan pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak sekolah dan kelompok rentan, di tengah jadwal distribusi yang berubah karena libur nasional.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kepala BGN Nomor 3 Tahun 2026, yang mengatur operasional MBG sepanjang bulan suci dan masa cuti bersama Lebaran. Meski begitu, ada jeda sementara dalam penyaluran makanan bergizi pada tanggal tertentu di awal Ramadan dan ketika cuti bersama tiba.
“Distribusi MBG pada awal Ramadan tidak dilaksanakan mulai 18 hingga 22 Februari 2026, tetapi akan dimulai kembali serentak pada 23 Februari,” ujar seorang pejabat BGN saat menjelaskan jadwal baru program tersebut, dikutip Kamis (19/2/2026).
Baca Juga: Setahun Turun 40 Bps, Bunga Kredit Bank Dinilai Masih Lambat
Selain itu, pada periode libur Idul Fitri 18–24 Maret 2026, penyaluran MBG juga tidak dilakukan secara rutin. Sebagai gantinya, paket makanan sehat akan dibagikan lebih awal kepada penerima manfaat.
Strategi ini, yang dikenal dengan skema paket bundling, dirancang untuk memastikan penerima tetap memperoleh kebutuhan gizi selama beberapa hari libur sekaligus. Menurut BGN, paket bundling tersebut hanya disiapkan untuk maksimal tiga hari konsumsi agar makanan tetap aman dan bergizi saat diterima dan diolah oleh keluarga atau sekolah.
Selain penyesuaian jadwal, BGN juga menetapkan standar menu baru selama Ramadan dan periode libur nasional. Jenis makanan yang disalurkan akan menghindari produk ultra-processed food (UPF) atau makanan pabrikan yang biasanya mengandung additives dan pengawet. Ini untuk menjamin bahwa MBG tetap sehat, aman, serta sesuai kebutuhan gizi masyarakat.
Menu yang direkomendasikan dalam paket MBG mencakup sejumlah bahan bergizi seperti telur asin, abon, dendeng kering, buah-buahan, kurma dan pangan lokal lain yang aman dikonsumsi pada saat puasa atau libur sekolah. Penyesuaian menu ini menjadi poin penting karena sebagian penerima program, seperti siswa SD, ibu hamil, dan ibu menyusui, tetap menerima MBG selama periode tersebut.
Sementara itu, penyampaian program MBG di berbagai daerah juga mengikuti karakteristik lokal. Misalnya di Kalimantan Timur, sekolah-sekolah menyerahkan paket MBG berupa makanan kering kepada peserta didik yang berpuasa agar bisa dikonsumsi saat berbuka di rumah mereka.
Walau begitu, kebijakan penyesuaian ini tidak serta merta bebas dari respons publik. Beberapa pedagang kecil yang bergantung pada komoditas tertentu, seperti kurma musiman, mengaku merasakan dampak dari permintaan besar akibat kebutuhan menu MBG Ramadan yang meningkat. Mereka melaporkan stok cepat habis dan harga melonjak tajam, sehingga pendapatan usaha kecil ikut terpengaruh. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini