Jakarta, Sinata.id – Dentuman genderang, gemerincing simbal, dan gerak lincah singa raksasa akan kembali menguasai jalanan dan pusat perbelanjaan pada perayaan Tahun Baru Imlek 2026, 17 Februari 2026 mendatang. Barongsai, atraksi yang selalu menjadi magnet perhatian, kini tak lagi sekadar tontonan—melainkan pesan budaya yang hidup dan terus bertransformasi.
Di balik setiap loncatan dan kibasan kepala singa, tersimpan makna yang melampaui mitos. Barongsai bukan hanya simbol pengusir energi buruk, tetapi juga perwujudan harapan kolektif akan keberanian, kesejahteraan, dan awal yang lebih baik.
Dari Ritual Suci ke Ikon Budaya
Dikutip pada Minggu (1/2/2026), kesenian Barongsai telah hadir sejak masa Dinasti Chin, sekitar abad ke-3 sebelum masehi. Pada awal kemunculannya, tarian ini bersifat sakral dan hanya ditampilkan dalam upacara keagamaan di kelenteng.
Barongsai dipercaya sebagai jembatan antara dunia manusia dan alam spiritual, sekaligus pelindung yang mampu menolak bala. Karena itu, hingga kini para penari masih menjalani ritual khusus sebelum tampil, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan permohonan keselamatan.
Legenda Nian dan Bahasa Gerak
Akar filosofis Barongsai juga bersumber dari legenda Nian, makhluk mitologis yang diyakini takut pada suara keras dan warna mencolok. Dari kisah inilah lahir gerakan dinamis serta irama musik yang menghentak—bahasa simbolik untuk mengusir ancaman dan membuka ruang bagi keberuntungan.
Singa dalam Barongsai melambangkan kekuatan dan keberanian, menjadi pesan visual agar masyarakat menghadapi tahun baru dengan semangat yang teguh.
Lay See: Saat Rezeki “Dimakan” Singa
Salah satu momen paling ditunggu adalah ritual Lay See. Dalam tradisi ini, Barongsai mendatangi rumah dan toko, menari untuk membersihkan energi negatif.
Pemilik tempat kemudian memberikan angpao merah melalui mulut singa, sering kali disertai sayuran segar sebagai simbol rezeki dan keberkahan yang diterima. Bukan sekadar pertunjukan, Lay See menjadi bentuk doa bersama antara penari dan masyarakat.
Jejak Barongsai di Indonesia
Tradisi ini masuk ke Nusantara sejak abad ke-17, dibawa oleh migrasi masyarakat Tionghoa. Menariknya, istilah barongsai mencerminkan akulturasi: barong dari bahasa Jawa dan sai dari dialek Hokkian yang berarti singa.
Kini, Barongsai telah menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia—menghubungkan sejarah, spiritualitas, dan harapan dalam satu tarian yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Di Imlek 2026, ketika singa kembali menari, yang bergerak bukan hanya tubuh, tetapi juga harapan jutaan orang akan masa depan yang lebih cerah. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini